Banyuwangi (beritajatim.com) – Badan Pangan Nasional (BPN) bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Lapangan Desa Olehsari, Kecamatan Glagah. Acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat, terutama karena harga bahan pangan yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
GPM diselenggarakan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di daerah. Beberapa pihak terlibat dalam kegiatan ini, termasuk Bulog, Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), serta UMKM lokal. Selain itu, sejumlah toko retail seperti Roxy, Vionata, dan Ramayana turut berpartisipasi dalam menyediakan kebutuhan pokok dengan harga miring.
Warga Banyuwangi, seperti Painem (63) asal Desa Paspan, terlihat antusias memborong beberapa kebutuhan pokok. “Dapat kabar kalau ada pasar murah di sini, jadi sempatkan untuk beli karena harganya lebih terjangkau daripada di pasar tradisional,” ucapnya sambil membawa cabai, bawang, minyak, dan telur.
Beberapa komoditas yang dijual dengan harga lebih murah dari pasar antara lain:
- Mie instan seharga Rp 80.000 per dus (isi 40), harga normal Rp 120.000.
- Beras medium (5 kg) dijual Rp 56.500, sementara harga di pasaran Rp 60.000.
- Gula pasir dijual Rp 17.000 per kg, di pasaran Rp 18.000.
- Minyak goreng seharga Rp 13.500 per liter, lebih murah dari harga pasar Rp 16.200.
Selain itu, bahan pokok lainnya seperti tepung tapioka 500 gr dijual Rp 8.000, bawang putih Rp 34.000/kg, cabai rawit Rp 28.000/kg, dan tomat seharga Rp 3.000/kg juga tersedia di pasar murah ini.
Pj Bupati Banyuwangi, Sugirah, menyampaikan bahwa GPM sangat membantu masyarakat, terutama yang memiliki daya beli terbatas. “Dengan program ini, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam,” ujarnya saat meninjau acara.
Sugirah juga menjelaskan, Pemkab Banyuwangi telah menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas pangan di daerahnya. Salah satunya adalah memfasilitasi distribusi pangan dari wilayah surplus ke wilayah defisit.
“Sebagai contoh, daerah Wongsorejo yang memiliki pasokan jagung melimpah dapat mendistribusikannya ke desa-desa lain agar tercipta keseimbangan pasokan dan harga tetap stabil,” ungkapnya.
Selain itu, Sugirah memastikan bahwa pasokan pangan di Banyuwangi aman, meskipun beberapa komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat tengah mengalami lesu di pasar.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan harga dan stok pangan di pasar. Terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” tutup Sugirah. [rin/ian]






