Jember (beritajatim.com) – Muhammad Atoillah Isfandiari, Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, mengatakan, peluang terjadinya gelombang ketiga Covid-19 tergantung pada komitmen pemerintah menjaga perbatasan negara.
“Kalau karantinanya tidak optimal karena pertimbangan satu dan lain hal, bablas. Terutama nanti menjelang libur panjang, tahun baru dan natal, karena wisatawan mancanegara datang, orang kita juga ke luar negeri, pekerja migran datang. Selama karantinanya bagus, setelah tujuh hari terbukti tak ada gejala baru boleh pulang, masih aman. Jadi ujian kita di karantina waktu libur panjang,” katanya, saat ditemui di Kabupaten Jember, Senin (1/11/2021).
“(Kalau) kadang ada permainan-permainan, sehingga orang tidak perlu karantina atau karantinanya diperpendek, itu yang membuat terjadi kebocoran-kebocoran varian baru yang kita tidak tahu case fatality rate-nya berapa untuk orang Indonesia,” kata Atoillah.
Kehadiran varian baru di Indonesia menentukan apakah Covid-19 bakal tetap menjadi epidemi atau endemi. “Kalau misalnya di Indonesia varian Covid yang kemarin-kemarin itu saja, boleh jadi akan endemik. Artinya kekebalan tubuh sudah terbentuk pada beberapa orang, sehingga penularan yang terjadi adalah penularan varian lokal saja kepada yang belum punya kekebalan. Yang dimaksud endemik adalah pada orang yang belum imun,” katanya.
“Yang jadi masalah kalau ada varian baru dari luar negeri yang masuk, yang kekebalan tubuh kita belum mengenali. Itu (yang dihawatirkan) akan jadi gelombang baru. Sebenarnya kalau case fatality rate-nya tidak terlalu tinggi, tingkat kematiannya tidak tinggi, itu akan sama dengan yang terjadi di gelombang ketiga di Singapura dan Belanda. Tapi kalau case fatality rate-nya tinggi, kita akan mengulang episode pada Juli 2021. Di luar negeri hanya India yang seperti itu,” kata Atoillah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-19″]
Atoillah mengingatkan, kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia saat ini belum tentu melandai atau turun trennya. “Mungkin penularan-penularan masih ada. Tapi tidak muncul sehingga tidak ada keluhan dan tidak terperiksa. Testing kita juga turun. Mungkin kasusnya masih tinggi, tapi yang terdeteksi tidak banyak, karena tidak banyak yang bergejala,” katanya, saat ditemui di Kabupaten Jember, Senin (1/11/2021).
Begitu ada penderita bergejala berat yang disebabkan varian baru, lanjut Atoillah, baru akan terdeteksi lagi. “Itu akan terpicu bila kita tidak berkomitmen membaca perbatasan kita,” katanya. [wir/ted]






