Gaya Hidup

Tradisi Seserahan, Calon Pengantin Pria Serahkan Sapi dan Satu Truk Gabah

Tuban (beritajatim.com) – Tradisi seserahan menjelang pesta pernikahan yang dilakukan oleh calon mempelai pria kepada keluarga calon pengantin wanita masih bisa ditemui di beberapa desa di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.

Dalam tradisi itu, colan pengantin pria membawa sejumlah perlengkapan bumbu dapur termasuk dengan seekor sapi jantan berukuran besar serta perabotan rumah tangga dan juga gabah. Tak tanggung-tanggul biaya untuk tradisi seserahan dari mempelai pria kepada keluarga wanita jika dihitung bisa mencapai Rp 150 juta.

Tradisi seserahan sebelum pernikahan yang sudah turun termurun itu kali ini dilakukan oleh pihak calon pengantin pria bernama Muhammad Rifqi Febrianto, warga Desa Tengger Wetan, Kecamatan Kerek. Dengan menggunakan tiga mobil pikap dan satu truk membawa barang-barang seserahan menuju rumah calon mempelai wanita yang berada di Desa Gemulung, Kecamatan Kerek.

“Ini namanya adalah tradisi srasrahan atau seserahan. Ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari zaman dulu. Istilahnya yang diserahkan itu bakal jangan (bumbu dan perlengkapan memasak),” terang Wagi (53), perwakilan dari keluarga mempelai pria yang melakukan seserahan ke rumah mempelai wanita.

Untuk melakukan tradisi ini, pihak keluarga dari Muhammad Rifqi membawa seekor sapi jantan besar dengan berat lebih dari setengah kuintal, kemudian tempat tidur, satu set meja kursi, almari, bumbu dapur, minuman kemasan, gula, beras dan lainnya.

Sedangkan yang tidak kalah menariknya adalah satu truk berisikan gabah (padi) yang langsung diantarkan ke rumah calon mempelai wanita. “Kalau di desa kami itu, calon mempelai pria melakukan Srasahan bagi yang mampu. Dan tradisi ini masih terus dilakukan oleh warga Desa Tenggerwetan,” tambahnya.

Biasanya, iring-iringan sasrasahan tersebut dilakukan dengan cara berjalan kaki dengan membawa barang-barang yang akan diserahkan kepada calon mempelai wanita jika jarak rumahnya dekat. Dan hal tersebut sering menjadi perhatian bagi warga masyarakat luar desa yang kebetulan lewat.

Sementara itu, dalam tradisi srasahan menjelang pernikahan itu barang-barang yang diserahkan oleh calon mempelai pria langsung diterima oleh keluarga calon mempelai wanita. Sedangkan pihak calon mempelai wanita yakni Samrotul Ma’rufan kemudian membalas srasarahan itu dengan mengirimkan makanan kepada pihak keluarga calon mempelai pria.

“Kami sebagai keluarga calon wanita kita terima dengan baik semuanya. Memang kalau tradisi seperti ini biasa dilakukan bagi keluarga yang memang mampu,” jelas Taryo (48), yang merupakan orang tua dari calon mempelai wanita.

Tradisi seserahan menjelang pernikahan dengan barang-barang berharga seperti sapi jantan, beras dan barang lainnya dengan nilai lebih dari Rp 100 juta di wilayah Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban sempat viral di media sosial. Sejumlah nitizen merasa kaget masih ada tradisi layaknya sultan saat prosesi jelang pernikahan. [mut/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar