Banyuwangi (beritajatim.com) – Ribuan warga berjubel memadati arena pentas tradisi ritual Seblang Olehsari di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.
Tradisi yang kerap digelar tiap tahun sebagai bagian dari bersih desa yang diselenggarakan saat lebaran tiba.
Warga setempat mempercayai, leluhur mereka menjadi bagian penting dari sejarah hingga saat ini. Sehingga, ritual ini merupakan kegiatan turun temurun yang selayaknya wajib digelar.
Prosesi ritual Seblang Olehsari digelar selama tujuh hari, sejak Senin (24/4/2023), ritual adat dan berakhir, Minggu (30/4/2023).
Antusiasme warga sejak awal hingga akhir tak pernah goyah meski tantangan cuaca panas yang menyengat. Maklum, kegiatan biasa dimulai pada tengah hari menjelang sore.
Sehingga hal ini menjadi momen terbaik bagi daerah khususnya Banyuwangi untuk menguri budaya. Sekaligus menjadi ladang promosi yang cukup tepat.
“Semua yang punya gadget (smartphone) ayo dikeluarkan. Kita bagikan tari mistis Seblang Banyuwangi ini di media sosial. Kita tunjukkan keunikan budaya yang ada di Banyuwangi,” ajak Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, yang turut menyaksikan Tari Seblang Olehsari, Minggu sore (30/4/2022).
Tak sekedar ritual, Seblang Olehsari juga syarat makna. Penuh dengan filosofi dan arti.
Tari Seblang Olehsari dibawakan oleh pemudi alias gadis yang masih prawan. Dia juga merupakan sebagai seorang yang memiliki garis keturunan seblang pendahulunya.
Saat menari, penari Seblang tidaklah sadar. Melainkan tubuhnya dirasuki oleh roh leluhur yang bergerak mengikuti irama gending.
https://beritajatim.com/peristiwa/banyuwangi-sinergi-dokter-hingga-bidan-turunkan-aki-dan-akb/
Seruak bau kemenyan menjadi pertanda, mantra yang mengalun juga mengajak Seblang untuk bergerak. Penari seblang hanya berhenti saat gending dan mantra juga berhenti.
Ada pula Kembang Dermo yang menjadi primadona dikala pengunjung datang. Kembang ini biasanya diperebutkan para warga karena memiliki beragam kegunaan.
Kembang Dermo konon dipercaya sebagai sebuah media untuk tolak balak, mengusir penyakit, keselamatan maupun keberuntungan. Bunga itu ditancapkan di sebatang bambu kecil yang terdiri tiga kuntum bunga yang terdiri dari bunga Wongso, bunga sundel, dan pecari kuning.
“Ini adalah salah satu budaya dan tradisi adat masyarakat Osing dalam mengejawantahkan rasa syukurnya. Budaya ini harus terus dilestarikan, sehingga tidak hanya menjadi tradisi masyarakat Olehsari saja, tetapi juga bisa dinikmati wisatawan,” tambah Ipuk. (rin/ted)






