Banyuwangi (beritajatim.com) – Direktur Aga Khan Award Farrokh Derakhshani memberikan kesan saat tiba di Banyuwangi. Terlebih saat dirinya melihat langsung desain Bandara Internasional Banyuwangi.
Farrokh mengaku terkesima dengan bandara yang berkonsep green airport tersebut. “Sistem udara di dalam Bandara Banyuwangi sangat sejuk. Saat tadi turun dari pesawat, saya langsung merasakan udara tropis di sini. Tapi begitu masuk ke terminal bandara, langsung terasa sejuk,” kata Farrokh, Sabtu (24/6/2023).
Tahun lalu, Bandara Internasional Banyuwangi mendapat penghargaan arsitektur dunia, Aga Khan Award for Architecture. Bandara ini dibangun dengan gaya internasional standard sebagian besar bandara di dunia. Skema pembangunan yang diterapkan bersandar pada sumber daya lokal, teknologi tepat guna, dan prinsip-prinsip desain pasif vernakular.
“Saya melihat adanya kesamaan antara konsep pembangunan Bandara Banyuwangi dengan konsep Achitecture Acupunture di Cina. Keduanya berfokus pada integrasi harmonis antara bangunan dengan lingkungan, serta menggabungkan elemen budaya local. Inilah menjadi keunggulan Bandara Banyuwangi,” ungkap Farrokh.
Kondisi negara Indonesia yang memiliki iklim panas disiasati dengan infrastruktur konektivitas yang menciptakan bukaan dan overhang yang dapat mengoptimalkan pengendalian suhu melalui ventilasi alami. Selain itu, pengaturan berkelanjutan dari lansekap ke ruang interior membantu aliran udara, dengan pepohonan rindang nan subur, menjadikan bangunannya bernuansa alam.
Sistem penghawaan alami juga diterapkan ke dalam bangunan sehingga hampir seluruh ruang operasional bandara tidak membutuhkan AC. Ini bisa dilihat dari overhang selebar tujuh meter, kisi-kisi kayu sebagai dinding ruang, juga pada sisi atap untuk menjadi ventilasi.
Fasad Bangunan Bandara Banyuwangi sendiri mencerminkan citra kearifan lokal Kabupaten Banyuwangi, karena mengadopsi bentuk Udeng, penutup kepala khas Suku Osing (penduduk asli Banyuwangi).
Direktur dan juri Aga Khan Award ke Banyuwangi turut mengapresiasi atas kemenangan Bandara Banyuwangi. Mereka akan memberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan Bandara Banyuwangi.
Tak hanya Farrokh, juri Aga Khan Award asal Singapura, Hossein Rezai juga mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam kunjungan pertamanya di Bandara Internasional Banyuwangi ini. “Jarak turun dari pesawat, pengambilan bagasi, dan area penjemputan sangat dekat sehingga memberikan kenyamanan bagi para pengunjung, tidak perlu berkeringat. Hemat energi,” ujar Hossein.
BACA JUGA:
Desain Bangunan Unik Banyuwangi Tampil di Festival Arsitektur Nusantara
Selama di Banyuwangi, mereka meluangkan waktu untuk sharing dengan para arsitek-arsitek dalam diskusi panel dan seminar internasional, yang merupakan rangkaian agenda Festival Arsitektur Nusantara. Dikusi dan seminar tersebut menghadirkan sejumlah arsitek nasional yang ikut terlibat dalam pengembangan Banyuwangi. Sebut saja Andra Matin, Adi Purnomo, Budi Pradono, dan Yori Antar.
Keduanya juga dijadwalkan menghadiri Festival Arsitektur Nusantara di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan dan Gedung Juang. Pameran ini memajang ratusan desain arsitektur yang telah dan akan dibangun di Banyuwangi di masa depan. Sebut saja desain museum kereta (PT INKA) karya Denny Gondo, desain museum air karya Adi Purnomo, hingga desain gedung Inggrisan yang akan direvitalisasi dengan melibatkan Yori Antar. Acara ini juga dimeriahkan dengan field trip peserta ke sejumlah destinasi alam dan gedung heritage di Banyuwangi. (rin/kun)






