Gaya Hidup

Syekh Jumadil Kubro, Penyebar Islam di Bumi Majapahit

Komplek Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Makam Troloyo di Desa Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto berkaitan erat dengan Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro atau yang biasa disebut Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro.

Setidaknya terdapat 19 nama yang dimakamkan di Makam Troloyo. Di antaranya Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, serta Ratu Ayu Kenconowungu.

Komplek Makam Troloyo mempunyai luas sekitar 3,5 acre atau 152 ribu kaki persegi. Masing-masing kompleks dikelilingi oleh tembok khas Majapahit dan memiliki empat plataran atau empat komplek makam yang cukup luas.

Tembok yang terbuat dari batu bata itu berdiri setinggi 1,8 meter. Antara komplek satu dengan komplek yang lain dihubungkan dengan jalan setapak yang melambangkan keterhubungan antar komplek.

Juru kunci, Arifin menceritakan, di Komplek Makan Troloyo ada tokoh yang sangat terkenal, yakni Sayyid Jumadil Kubro. ‘Beliau ulama dari Samarkhan yakni negeri perbatasan antara Azarbaijan dan Rusia. Beliau datang ke sini tahun 1399 didampingi anaknya,” ungkapnya, Sabtu (17/4/2021).

Sebelum ke Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro mampir ke Campa. Salah satu negara yang ada di Kamboja untuk bertemu dengan salah satu anaknya yang ada di sana dan kemudian ke tanah Jawa didampingi anaknya yang bernama Maulana Ibrahim Asmorokondi.

“Beliau datang ke sini untuk dagang, karena selain ulama beliau juga dikenal sebagai saudagar. Dagangnya bisa diterima di Kerajaan Majapahit tapi untuk siar agama Islam masih sulit. Akhirnya beliau bertemu dengan salah satu Tumenggung Majapahit, yakni Tumenggung Satin,” katanya.

Tumenggung Satin yang memberikan jalan dan memperkenalkan dengan tokoh-tokoh bangsawan Majapahit. Karena mengubah kepercayaan orang tidak mudah sehingga Syekh Jumadil Kubro mengalami kendala dan kesulitan. Karena saat itu, Kerajaan Kerajaan Majapahit mayoritas penganut agama Hindu yang kuat.

“Syekh Jumadil Kubro kembali, tapi bukan ke negaranya, namun ke negeri Syekh Sayid Muhammad. Syekh Sayid Muhammad kemudian mengutus dan mengumpulkan beberapa tokoh ada 9 yang masing-masing mempunyai keahlian sendiri-sendiri. Sebanyak 9 orang, bersama Syekh Jumadil Kubro ke tanah Jawa,” jelasnya.

Namun mereka tidak langsung ke Majapahit. Tapi menjalankan tugas pertama karena Kerajaan Majapahit banyak pagebluk saat itu. Masyarakat juga tidak percaya dengan adanya agama baru. Sehingga Syekh Jumadil bersama sembilan orang tersebut membuat tumbal yang ditanam di Gunung Tidar.

“Untuk menyiarkan agama Islam di Kerajaan Majapahit sedikit terbuka, meskipun belum secara terang-terangan. Untuk mengarahkan kepercayaan tidak secara langsung tapi memperkenalkan pada Tuhannya dulu. Saat itu, Kerajaan Brawijaya terakhir dan Majapahit mau hancur,” jelasnya.

Sebanyak sembilan orang yang menemani Syekh Jumadil Kubro ke tanah Jawa masih mempunyai hubungan keluarga, mulai sari cucu hingga cicit. Seperti Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Semua masih keturunan Syekh Jumadil Kubro.

“Untuk Sunan Kalijogo bukan keturunan Syekh Jumadil Kubro, namun beliau adalah menantu dari Sunan Ampel. Sehingga 9 orang wali atau Wali Songo merupakan satu kesatuan sehingga Troloyo disebut sebagai punjer Wali Songo,” tambahnya. [tin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar