Ngawi (beritajatim.com) – Siapa sangka, pencipta lagu Magetan Kumandhang bukanlah warga Magetan asli. Namun, begitu Suripto (71) yang dulunya adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang berdinas di Magetan tetap menjadikan Magetan sebagai tempat kerja yang penuh kenangan.
Meski kini sudah purna dinas, dia masih aktif berkesenian. Dia kerap mengajari siapa saja yang ingin belajar karawitan di rumahnya di Dusun Bedali RT 01 RW 02 Desa Babadan Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Suripto menceritakan jika Lagu Magetan Kumandhang berawal dari acara hari jadi Kabupaten Magetan. Saat itu, Bupati Letkol Psk. Djajadi yang mengundang Dalang Kondang Ki Narto Sabdo mendengarkan lagu Semarang Indah. Karena merasa Magetan belum memiliki lagu seperti itu, kemudian meminta pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuatkan lagu.
“Saya waktu itu diperintahkan langsung oleh Kepala Seksi Kebudayaan Pak Sutaryono saya disuruh dibuatkan lagu perintah dari Pak Bupati lewat DPRD. Lalu saya membuat syairnya dulu,” kata Suripto saat ditemui beritajatim.com di kediamannya, Rabu (11/01/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”magetan”]
Saat itu, dia mengambil makna kekompakan di Magetan. Masyarakat semangat membangun jiwa dengan penataran P4 era Orde Baru. Ekonomi Magetan kala itu sangat bagus.
“Daerah Magetan saat lomba desa pasti menang, yang mewakili Kecamatan Plaosan. Semua kompak sampai bisa menang juara 1 tingkat nasional. Yang penting adalah Pariwisata. Pejabat pusat dan provinsi, jika ada kegiatan pasti di Sarangan dan pasti dipentaskan satu tarian. Kebudayaannya berjalan baik. Pengambilan lirik pariwisata ya karena ini. Jadi lagu ini kekompakan seluruh unsur,” kata Suripto.
“Setelah selesai Kemudian saya haturkan pimpinan dan dibawa ke DPRD dan langsung disetujui. Dilanjutkan saja kemudian saya padukan dengan lagu. Itu semua saya sendiri dan tidak dibantu yang lain,” tambah mertua Kades Babadan Sunaryo itu.
Setelah itu, para pengrawit dikumpulkan dan dicobalah lagu itu dengan iringan karawitan. Bahkan, seluruh waranggana di Magetan kala itu dikumpulkan dan diberikan pelatihan untuk menyanyikan lagu Magetan Kumandhang. Tujuannya, selain mempopulerkan juga agar bisa menyanyikan lagu itu ketika diundang menyanyi acara kedinasan maupun acara yang lain.
“Bahkan, di tahun 90-an, ada lomba menyanyi lagu Magetan Kumandhang yang saat itu pesertanya kepala dinas, dan para pegawai. Ada pula lombanya untuk anak-anak sekolah,” kata bapak empat anak itu.
Kemudian lagu itu semakin populer dan banyak dinyanyikan saat acara di Kabupaten baik saat menyambut pejabat pemerintah pusat maupun provinsi. “Iringannya pakai laras pelog perenem. Yang menatar pengrawit dan waranggono juga saya sendiri. Jadilah lagu itu seperti yang saat ini kerap dinyanyikan,” kata kakek 13 cucu itu.
Usut punya usut, rupanya Suripto sudah sejak remaja bergelut dengan kesenian Jawa. Bahkan, sejak kecil sudah diperkenalkan dengan karawitan dan kesenian Jawa utamanya wayang karna ayahnya seorang dalang. Pria yang lahir di Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu pernah belajar di Konservatori Karawitan (Kokar) Indonesia Surakarta yang sekarang jadi SMKN 8 Surakarta.
Dari situlah dia semakin menekuni belajar kesenian Jawa baik karawitan dan tari tradisional Jawa. Setelah itu, dia bertemu almarhumah istrinya Kartini yang merupakan warga asli Desa Babadan yang merupakan sesama siswa di Kokar. Setelah menikah, dia tinggal di Ngawi ikut sang istri.
Dia pun sempat diangkat sebagai pegawai pemerintah dan awalnya berdinas di Kabupaten Ngawi. Dan selang lima tahun dapat surat keputusan (SK) dari pemerintah pusat dan berdinas di Magetan. Begitu pula sang istri yang saat itu bertugas di Kecamatan Magetan.
“Saat kami dinas di Magetan, sudah bikin rumah di sana tepatnya di Kelurahan Sukowinangun. Dulu kantor saya di Gedung Mahendra yang sekarang jadi Kantor Cabang BRI Magetan. Dulunya Gedung Mahendra ini seperti Gedung Tripandita yang sekarang. Jadi pusat kegiatan kesenian apapun,” lanjut Suripto.
Namun, karena orang tua Kartini sudah sering sakit-sakitan dan Kartini anak tunggal, mereka pun pindah dinas ke Ngawi. Suripto di Kecamatan Jogorogo dan Kartini di Kecamatan Sine. Dia jadi penilik kebudayaan.
“Setelah purna dinas tahun 2008, saya melatih karawitan. Kebetulan ada gamelan warisan bapak mertua. Ini yang digunakan ibu-ibu guru TK, SD, SMP untuk latihan. Sampai akhirnya ada pandemi sampai sekarang libur latihan karena situasi darurat ya,” kata Suripto.
Tak hanya itu, Suripto juga kerap diundang jadi juri jika ada perlombaan kesenian tradisional Jawa yang dilaksanakan di Magetan, Ngawi, hingga Madiun. “Kerap diundang jadi juri acara lomba kesenian tradisional Jawa. Masih aktif melatih karawitan. Harapannya anak-anak muda tetap nguri-nguri budaya,” katanya. (fiq/kun)






