Gaya Hidup

Antisipasi Abrasi

Ribuan Mangrove Ditanam di Pantai Soge dan Pantai Teban Pacitan

Relawan dan warga setempat saat menanam mangrove di pantai Pacitan. (Foto/Dompet Dhuafa)

Pacitan (beritajatim.com) – Sebanyak 2.050 pohon mangrove dan pohon keras lainnya ditanam Pantai Soge berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo dan Pantai Teban di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Penanaman pohon mangrove dan pohon keras lainnya sebagai antisipasi abrasi itu, dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.

Melalui gerakan Sedekah Pohon, penanaman mangrove dan pohon keras dilaksanakan serentak dengan uluran bantuan warga setempat.

Kepala Desa Sidomulyo Agus Sugiyanto menyambut baik kegiatan penanaman tanaman mangrovo dan pohon keras di Pantai Soge. Menurutnya, hal positif ini mendorong motivasi warga dan pihak aparatur setempat, untuk kembali membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Sehingga menjadi sebuah kawasan tangguh dan tanggap bencana.

“Kami menyambut baik tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh DMC Dompet Dhuafa. Karena memang setelah terjadi pasca musibah kemarin, menjadi motivasi kami untuk membangun kembali sarana dan prasarana pasca dilanda kerusakan, ” ungkap Agus Sugiyanto, ditulis Selasa (1/11/2022).

Agus mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat sudah melakukan koordinasi dengan aparatur setempat mulai dari tingkat kecamatan dan kabupaten. Hasilnya, melalui Dinas Pekerjaan Umum telah dicanangkan program pembuatan tanggul pengaman.

Agus juga menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat sudah bisa mengantisipasi bencana abrasi. Karena, menurutnya masyarakat percaya bahwa ini merupakan siklus 5 tahunan sekali. Namun, meski sudah melakukan perencanaan matang, bencana alam selalu hadir di luar perkiraan. Sehingga pertolongan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci penanggulangan bencana yang komprehensif.

“Dengan demikian, ini bisa menjadi upaya penanggulangan bencana di destinasi wisata Pantai Soge,” katanya.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Sidomulyo, Suparli juga menuturkan hal serupa. Masyarakat sudah memiliki FPRB, namun forum tersebut masih terbilang baru. Sehingga aktivasi kegiatan pengurangan resiko bencana masih belum mapan.

“Saya ucapkan terima kasih kepada DMC Dompet Dhuafa bahwa kami Desa Sidomulyo telah diberikan pelajaran untuk menanam mangrove dan itu sangat berguna sekali serta sangat bermanfaat. Karena kami di sini FPRB kami memang belum lama berdiri dan tentang penanaman mangrove masih belum begitu paham sekali,”jelasnya.

Relawan dan warga setempat saat menanam mangrove di pantai Pacitan. (Foto/Dompet Dhuafa)

Suparli berharap bahwa kegiatan ini bisa berlanjut dan meningkat hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih masif lagi.

”Saat banjir terjadi dampaknya sangat menggerus pantai atau bibir pantai. Namun sekarang telah dilaksanakan pemasangan batu besar (tanggul) untuk penahan air yang telah diinisiasi oleh masyarakat,”terang Suparli.

Ketua Karangtaruna Desa Sidomulyo, Bowo Prayogo menceritakan bahwa abrasi terparah terjadi di tahun 2022. Pada tahun 2022 ini, abrasi telah menghilangkan lahan-lahan pariwisata di pantai. Hal itu terjadi dalam waktu seminggu.

“Dalam waktu seminggu, bencana abrasi telah menghabiskan lahan-lahan pariwisata. Tahun 2022, abrasi paling parah yang sudah terjadi di Pantai Soge. Sampai-sampai menghabiskan lahan parawisata. Aset desa kita yang habis,” ungkap Bowo.

Kegiatan penanaman ini juga sarana edukasi sebagai bentuk penyadaran ke masyarakat pengunjung, khususnya warga Desa Sidomulyo. Tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Selain itu, juga untuk edukasi terhadap warga tentang tanaman pelindung yang berfungsi sebagai pemecah gelombang tsunami.

“Semoga penanaman mangrove ini bisa menahan abrasi. Supaya tidak habis lagi (lahan pantai). Sangat disayangkan apabila terjadi seperti ini lagi. Dahulu sudah bagus, sekarang jadi rusak,” ucap Bowo.

DMC Dompet Dhuafa akan menjadikan Desa Sidomulyo sebagai Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana. Dengan menitikberatkan kepada program mitigasi dan kesiapsiagaan bencana gempa bumi, tsunami hingga abrasi. Sehingga penanaman mangrove dan pohon keras ini merupakan salah satu agenda besar masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa dalam mewujudkan Indonesia Tangguh dan Tanggap Bencana.

Dalam waktu dekat, masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa akan melakukan pembangunan bendungan pemecah ombak. Hal Ini sangatlah penting, karena merupakan upaya untuk mencegah terjadinya banjir bandang, dan juga untuk menjaga kestabilan dan kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di pesisir.

“Kami mohon dukungan dan bantuannya bersama DMC Dompet Dhuafa dalam rencana mewujudkan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana di Desa Sidomulyo. Kami berharap dengan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana ini mampu membantu warga dapat beraktivitas seperti biasa tanpa merasa cemas akan ancaman bencana yang mengintai,”jelas Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa.(end/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar