Gaya Hidup

Puasa, Dari Beriman Menuju Takwa

Dalam pemahaman dasar, bahwa proses beragama seyogyanya harus menapaki tiga tingkatan kualitas, termasuk dalam melaksanakan berbagai ibadah yang dianjurkan syariat. Meliputi tingkat beriman (memperoleh keyakinan), bertakwa (memperbanyak amalan shalih), serta berislam (berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Hal tersebut sesuai dengan Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam QS Ali Imron: 102. Artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Tingkat beriman merupakan tingkatan terendah dalam proses beragama, di mana tingkatan ini menggambarkan sebuah proses ‘pencarian’, dilanjutkan dengan proses ‘pemahaman’ dan diakhiri dengan sebuah ‘keyakinan’. Sehingga pada tingkatan ini, seorang muslim akan berkutat dengan beragam ‘pergulatan pemikiran’ yang sangat intens.

Dengan kata lain, seseorang yang tdak mengalami proses pergulatan pemikiran (melakukan proses pencarian, pemahaman dan keyakinan). Maka hampir dipastikan jika kualitas keimanan tersebut tidak cukup tangguh. Hal tersebut yang dialami para Nabi seperti yang disebutkan dalam QS An-Nisa’; 125.

Tingkatan kedua yaitu bertakwa atau biasa disebut dengan tingkatan aplikasi atau amalan, karena sebuah keyakinan yang diperoleh semestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya tidaklah mudah untuk dilaksanakan secara konsisten (istiqamah), sehingga dibutuhkan perjuangan keras untuk menegakkan ketakwaan sesuai dengan anjuran ‘Ittaqullaha haqqatuqatihi’.

Tingkatan ketiga adalah berislam atau berserah diri, tingkatan ini merupakan hasil dari sebuah perjuangan panjang yang dilakukan secara istiqamah. Sehingga orang-orang akan mudah menjalankan perintah syariah dengan penuh keikhlasan, orang-orang yang matinya dalam keadaan mutmainnah seperti dalam QS Al-Fajri; 27-30:

Artinya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku”.

Berkaitan dengan hal tersebut, puasa merupakan tata cara ibadah yang berorientasi menjadikan pelakunya menjadi orang yang bertakwa, yakni tingkatan kedua dalam tingkatan proses bergama. Seperti dalam QS Al-Baqarah:183; “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.

Ayat di atas sangat gamblang menggambarkan bahwa puasa adalah suatu proses untuk meningkatkan kualitas ‘iman’ menjadi ‘takwa’. Karena itu, panggilan dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang yang beriman untuk memenuhi kewajiban puasa.

Secara tersirat, ayat tersebut menandakan kewajiban puasa hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman. Karena orang beriman merupakan orang yang telah memperoleh keyakinan atas dasar pencarian dan kepahaman, tentunya bukan hanya sekedar ikut-ikutan semata.

Hal ini menjadi kata kunci yang menggiring keberhasilan seseorang dalam menjalankan ibadah puasa dalam arti yang sebenarnya. Karena orang-orang yang tidak beriman justru sangat mungkin mengalami sebuah ‘kegagalan’ dalam menjalani ibadah puasa.

Dengan kata lain, seorang muslim harus menjalankan ibadah puasa dengan penuh kepahaman, bukan sekedar ikut-ikutan dan menjalankan rutinitas semata. Sebab jika hal itu terjadi, bukan tidak mungkin prediksi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terealisasi, bahwa puasa kita hanya sekedar mendapat lapar dan dahaga semata. Wallahu A’lam. [pin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar