Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Inilah 5 Hal Menarik di Balik Pesona Waduk Gondang Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Waduk Gondang di Lamongan menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan saat berkunjung ke kabupaten yang dikenal dengan sebutan kota Soto tersebut.

Di balik pesona keindahan alamnya, waduk yang berjarak sekitar 19 kilometer dari arah Babat Lamongan ini ternyata menyimpan sejumlah cerita yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang.

Secara administratif, wilayah waduk ini berada di 2 kecamatan, yakni Kecamatan Sugio dan Sambeng. Di Kecamatan Sugio, waduk ini meliputi Desa Gondang Lor, Desa Deketagung, Kalitengah, Daliwangun dan sebagian Desa Sidorejo. Sedangkan di Kecamatan Sambeng, meliputi Desa Sekidang dan Wonorejo.

Nama Waduk Gondang sendiri kembali mencuat usai terjadinya insiden perahu tenggelam yang menewaskan 3 korban jiwa, pada Minggu (7/2/2022) lalu. Lalu, apa saja hal menarik yang bisa diulas dari waduk ini?

1. Diresmikan oleh Presiden Soeharto

Diketahui, waduk yang berada di wilayah selatan Kabupaten Lamongan ini adalah salah satu waduk yang dibangun dan diresmikan oleh Soeharto, Presiden RI kedua.

“Waduk Gondang ini dibangun pada masa pemerintahan Soeharto, presiden kedua Indonesia. Diresmikan oleh Pak Harto pada tahun 1987,” ujar pemerhati budaya Lamongan, Navis Abdul Rouf kepada wartawan, Sabtu (12/2/2022).

Menurut Navis, waduk ini memiliki luas 6,60 hektare dan kedalaman sekitar 29 meter. Lalu bendungannya memiliki panjang 903 meter dan tinggi 27 meter. Waduk ini dimanfaatkan untuk pengairan sawah (irigasi) seluas 6.233 hektar, utamanya saat musim kemarau.

Seiring perkembangan zaman, selain menjadi wilayah penampung air untuk irigasi, Waduk Gondang juga menjadi salah satu lokasi wisata yang ditunjang dengan berbagai sarana, salah satunya adalah wahana permainan dan mini zoo.

Selain itu, Waduk Gondang juga ditunjang dengan sejumlah fasilitas lain di atas tanah seluas kurang lebih 5 hektar, seperti tempat perkemahan, outbond, tempat kuliner, dan beberapa permainan anak untuk menambah daya tarik.

2. Berkaitan dengan Sungai Gondang yang Hilang

Navis mengungkapkan, bahwa waduk yang mulai dibangun pada tahun 1976 hingga 1986 ini telah menghabiskan biaya sekitar Rp 14,902 miliar. Ia bahkan menyebut, waduk ini berhubungan erat dengan sungai Gondang yang hilang.

“Sungai Gondang yang hilang tersebut menghubungkan antara Bengawan Solo melalui sungai Bengawan Njero dengan Sungai Brantas,” sebutnya.

Berdasarkan data peta yang dipublikasikan pada Oktober 1811, lanjut Navis, dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan sungai penghubung tersebut sebenarnya masih ada hingga akhir abad 18 masehi.

“Kalau dilihat dari peta lama tahun 1811, keberadaan sungai itu masih ada atau tergambar dalam peta tersebut dengan nama Sungai Gondang,” imbuhnya.

Hal senada juga dikatakan oleh pemerhati budaya Lamongan lainnya, Supriyo. Ia meyakini, jika sungai yang hilang tersebut adalah Sungai Gondang yang dulunya menjadi penghubung antara Bengawan Solo dengan Sungai Brantas, melalui Bengawan Njero.

Dulunya, Supriyo menuturkan, lokasi sekitar waduk Gondang merupakan sebuah lembah dari perbukitan kapur. Di tempat ini mengalir sungai Gondang yang ramai dilalui oleh perahu-perahu pengangkut barang dagangan dari pedalaman ke muara pantai utara di sekitar Leran dan Gresik.

“Cerita tutur lain juga mengisahkan adanya kapal dagang China dengan sebutan kapal Sampokong, yang juga dapat berlayar hingga ke sekitar Gondang dan terdampar di Desa Gondang, di mana lokasi waduk berada sekarang,” kata pria yang juga Ketua Lesbumi NU Lamongan tersebut, Sabtu (12/2/2022).

Terlepas dari soal ketepatan tutur tersebut, tambah Supriyo, satu hal yang perlu dicermati adalah keberadaan sungai Gondang yang hari ini hanyalah sebuah aliran sungai kecil dengan lebar tak lebih dari 5 meter dan kedalaman maksimal 2 meter, yang saat musim penghujan kerap meluap di jalan sekitar desa.

Waduk Gondang Lamongan

Sesuai peta tahun 1811 silam, nampak Sungai Gondang adalah sungai besar yang menjadi penghubung transportasi air dari wilayah pedalaman ke sungai Bengawan Njero hingga Leran, Gresik.

“Dari peta tersebut juga diketahui jika aliran sungai Gondang masuk ke Bengawan Njero, yang alirannya juga terhubung dengan Bengawan solo yang saat itu masih bermuara di sekitar Desa Badanten, Kecamatan Bungah, Gresik,” paparnya.

3. Keberadaan Makam Mbok Rondo Gondang atau Dewi Sekardadu

Menariknya lagi, di sekitar Waduk Gondang ini juga terdapat makam yang sering didatangi peziarah, yang dikabarkan merupakan makam Dewi Sekardadu, ibu kandung dari Sunan Giri, salah satu Wali Songo yang menyiarkan Islam di Jawa.

Lokasi Makam itu di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, yang ditandai dengan adanya bangunan seluas 64 meter persegi, berlantai keramik putih, dan berada di tengah-tengah tanah yang dikelilingi pagar bata.

“Konon, Mbok Rondo Gondang yang juga dipercaya sebagai Dewi Sekardadu ini melakukan kontak dagang dan penyebaran agama bersama jaringannya dari sekitar Giri hingga ke pelosok pedalaman Lamongan. Beliau tinggal hingga sekian waktu sampai meninggal dunia dan dimakamkan di depan Waduk Gondang saat ini,” ucap Supriyo.

4. Prasasti Gondang yang Mirip Prasasti Airlangga

Masih di sekitar Waduk Gondang, di tempat ini juga terdapat sebuah batu prasasti yang diduga kuat berasal dari masa akhir pemerintahan Airlangga atau masa Jenggala yang dikenal dengan nama prasasti Gondang, tepatnya berada di Desa Gondang Lor, Kecamatan Sugio.

Secara rinci, prasasti ini memiliki bentuk kurawal pada bagian atasnya dan saat ini kondisi aksara pada prasasti ini hampir sudah tak bersisa dan tak terbaca.

“Sekitar tahun 1997, Dr. Ninie Susanti, arkeolog dari UI saat penelitian masih sempat melihat jejak guratan aksaranya. Dari keterangan beliau dan dari data registrasi tahun 1906 yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, menyatakan bahwa prasasti ini memiliki aksara Jawa kuno,”

“Meski kondisi aksara tak terbaca karena aus, dari paleografinya ada banyak kemiripan dengan prasasti-prasasti masa Airlangga lainnya yang ada di Lamongan, sehingga dugaan mengarah bahwa prasasti ini memiliki kaitan dengan pemerintahan masa Airlangga ataupun masa anaknya yang bernama Mapanji Garasakan,” beber Supriyo.

Waduk Gondang Diresmikan Presiden Soeharto

Tak cukup itu, dugaan prasasti Gondang berasal dari masa Airlangga atau pun anaknya ini, menurut Supriyo, tentunya bukan hanya didasarkan atas adanya aksara prasasti saja.

Dari penelusuran yang pernah dilakukan oleh Supriyo bersama teman-temannya sesama pecinta budaya Lamongan, ternyata juga banyak ditemukan pecahan koin kuno, porcelain China kuno dan juga gerabah lokal di sekitaran lokasi Waduk Gondang.

“Dari fragmen keramik asing tersebut, terdapat fragmen keramik masa sekitar abad 11-13 cukup dominan,” jelasnya.

5. Pusat Perdagangan Masa Lalu

Dengan temuan-temuan yang disebutkan di atas, baik Navis maupun Supriyo meyakini, jika Desa dan Sungai Gondang yang hilang ini dulunya adalah pusat perdagangan di masa lalu.

Apalagi, berdasarkan data yang dihimpun sebelumnya, sungai Gondang ini juga ramai dilalui oleh perahu-perahu yang mengangkut barang dagangan dari pedalaman ke muara pantai utara di sekitar Leran dan Gresik.

“Dengan kondisi ini, menjadi wajar jika pada masa abad 10 hingga sekitar abad 15, Desa Gondang dan Sungai Gondang yang hilang menjadi pusat perdagangan masa kuno di wilayah pedalaman Lamongan,” tandas Supriyo.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar