Siapakah calon presiden yang akan diusung PDI Perjuangan dalam pemilihan umum dua tahun mendatang? Pertanyaan itu tak hanya menarik untuk dinanti jawabannya, tapi juga membelah preferensi politik warga partai berlambang kepala banteng itu.
Ada dua kandidat kuat berstatus kader yang mengemuka, yakni Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Puan adalah ‘darah biru’ di partai nasionalis tersebut. Perempuan kelahiran 6 September 1973 itu adalah putri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri, dan saat ini menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Ganjar dikenal sebagai gubernur Jawa Tengah. Pria kelahiran Karanganyar, 28 Oktober 1968 itu adalah gubernur dua periode, 2013-2018 dan 2018-2023. Sebelumnya, ia pernah menjadi legislator Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI pada periode 2004–2009 dan 2009–2013.
Dari hasil jajak pendapat sejumlah lembaga, Ganjar lebih disukai publik daripada Puan. Hasil simulasi top of mind yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada Agustus 2022, elektabilitas Puan Maharani hanya 0,7 persen suara responden. Ganjar Pranowo 17,6 persen.
Hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dilansir awal Oktober 2022, elektabilitas Ganjar Pranowo mencapai 30,2 persen dan Puan 3,2 persen. Elektabilitas mereka masih lebih baik dibandingkan Khofifah Indar Parawansa (2,2 persen) dan Erick Thohir (1,4 persen).
Muhammad Iqbal, doktor ilmu komunikasi politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan PDI Perjuangkan agar mencalonkan duet Ganjar dan Puan sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.
“PDI Perjuangan sangat diuntungkan promosi gratis lembaga-lembaga survei yang selalu menempatkan kader terbaik Ganjar Pranowo di posisi teratas, kerap susul-menyusul dengan Prabowo Subianto. Di satu pihak, PDI Perjuangan juga punya kader terbaik yang saat ini menjabat Ketua DPR RI, Puan Maharani,” kata Iqbal, Sabtu (15/10.2022).
[berita-terkait number=”2″ tag=”pilpres-2024″]
Elektabilitas Puan saat ini memang tercecer dibandingkan Ganjar dan harus terus didorong. “Namun sangat baik jika PDI Perjuangan tidak perlu toleh kiri-kanan mencalonkan pasangan Ganjar dan Puan, sehingga dua-duanya berpotensi meraih ceruk pemilih mulai dari kalangan perempuan dan milenial. Apalagi didukung lembaga survei yang mencatatkan posisi Ganjar di urutan tertinggi,” kata Iqbal.
Dengan berduetnya Ganjar dan Puan, maka suara kaum nasionalis akan solid. “Sangat istimewa jika PDI Perjuangan jadi poros tersendiri mencalonkan duet Ganjar-Puan. Dari aspek mesin politik, saya kira, di sinilah keistimewaan PDI Perjuangan. Mereka rulling party dan memiliki basis massa serta akar pendukung di Jawa. Belum lagi mereka punya dukungan di Bali dan Nusa Tenggara Timur,” kata Iqbal.
Duet Ganjar dan Puan dinilai bisa mengembalikan soliditas PDI Perjuangan yang terbelah. Sebelumnya, sejumlah kader PDI Perjuangan sudah berkomitmen untuk tetap mengusung dan mendukung Ganjar melalui partai lain jika PDI Perjuangan tak mencalonkannya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”ganjar-pranowo”]
“Kami mantan pengurus dan legislator PDI Perjuangan Kabupaten Jember akan tetap mendukung dan memenangkan Ganjar Pranowo, meskipun, seandainya PDI Perjuangan tudaj merekomendasi Ganjar Pranowo sebagai capres dari PDI Perjuangan,” kata Yusuf Iskandar, dalam pernyataan sikap mengatasnamakan mantan legislator dan pengurus PDI Perjuangan Jember.
Militansi ini, menurut Iqbal, adalah modal kuat. “Saya kira keistimewaan PDI Perjuangan yang tidak dimiliki partai lain yang seharusnya bisa terus dilembagakan lebih serius. Dalam waktu tersisa dua tahun ini, sudahi konflik internal apakah Ganjar atau Puan. Sudahi saja. Terfokus dan bersatu. Saatnya mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk NKRI dan Pancsila dengan mencalonkan Ganjar dan Puan Maharani dalam satu paket,” kata pria kelahiran Surabaya ini. [wir/suf]






