Surabaya (beritajatim.com) – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) bersama Pemerintah Kota Surabaya menggelar senam lansia di halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (10/8/2025) pagi. Kegiatan yang menjadi rangkaian perayaan HUT ke-64 Bank Jatim itu diikuti 640 lansia, melambangkan usia perseroan tahun ini. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Plt. Direktur Utama Bank Jatim Arif Suhirman turut hadir.
Arif mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemberdayaan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lansia. Ia mengapresiasi semangat peserta yang tetap aktif dan bugar. “Semua peserta sangat luar biasa, ini bukti bahwa para lansia di Kota Surabaya masih sangat aktif melakukan kegiatan dan tampak sehat segar bugar,” ujarnya.
Menurut Arif, senam sehat ini menjadi bentuk kepedulian Bank Jatim terhadap kesehatan masyarakat lansia. “Kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dengan peran sebagai institusi keuangan. Lewat senam lansia, Bank Jatim memperkuat upaya membangun masyarakat yang sehat dan berdaya, sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas lokal,” tegasnya.
Eri Cahyadi menambahkan, kegiatan ini mendukung upaya Pemkot meningkatkan Angka Harapan Hidup (AHH) warga lanjut usia. Berdasarkan penelitian Universitas Airlangga (Unair), olahraga teratur, khususnya bagi wanita menopause, dapat memperpanjang harapan hidup.
“Kami akan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unair untuk mengembangkan program olahraga khusus lansia, lengkap dengan jenis dan waktu pelaksanaan yang tepat,” jelasnya.
AHH Surabaya saat ini mencapai 75,82 tahun, ikut mendorong Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota. Eri menekankan kebahagiaan sebagai kunci umur panjang. “Orang bahagia itu panjang umur, jadi jangan stres,” katanya.
Selain senam, dilakukan penyerahan simbolis bantuan operasi katarak gratis dari Bank Jatim dan Bank NTB Syariah. Sebelumnya, pada Sabtu (2/8), Bank Jatim bersama Bank NTB Syariah dan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) menggelar operasi katarak gratis untuk 10 pasien. Arif menjelaskan katarak adalah penyebab utama kebutaan yang dapat diobati, namun akses layanan kesehatan masih terbatas bagi sebagian masyarakat.
Proses operasi dimulai dari screening kesehatan, rujukan pengobatan, pelaksanaan operasi, hingga kontrol pasca operasi. “Kami ingin memastikan setiap peserta mendapatkan perawatan terbaik sehingga mereka bisa pulih cepat dan kembali beraktivitas,” tutup Arif. [rea/beq]






