Malang (beritajatim.com) – Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS UM) kembali menggelar acara tahunan Navastra dengan menampilkan film Lembayung di Langit Gili. Pemutaran film ini disusul dengan diskusi yang menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan.
Acara dibuka dengan pertunjukan tari Holding The Full Moon oleh maestro tari sekaligus pengajar di Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik FS UM, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. Meski usianya tak lagi muda, Prof. Robby tetap enerjik dan memukau hadirin dengan gerakannya yang penuh makna.
Salah satu dosen Sastra Inggris FS UM, Prof. Misbahul Amri, mengapresiasi penampilan tersebut. “Energi beliau luar biasa! Gerakan tari penuh makna dan menyampaikan cerita yang mendalam,” ujarnya saat acara berlangsung pada Jumat (14/2/2025).
Film Lembayung di Langit Gili merupakan karya Dr. Karkono, S.S., M.A., yang lebih dikenal dengan nama pena Karkono Supadi Putra. Film ini berangkat dari penelitian yang memenangkan hibah pendanaan DRTPM dan menyoroti fenomena speech delay pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah inklusi.
“Yang namanya film edukasi, jangan sampai edukasinya justru tenggelam. Harus ada keseimbangan antara hiburan dan pesan moralnya,” ungkap Karkono dalam sesi diskusi. Ia juga memperkenalkan para pemain film yang berasal dari berbagai fakultas di UM.
Karkono menyoroti tantangan sekolah inklusi, terutama di daerah 3T yang masih menghadapi keterbatasan dalam menangani ABK. Menurutnya, tidak semua guru memiliki keterampilan khusus untuk mendidik anak dengan kebutuhan khusus.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan positif. Yulis, seorang guru SD di Ngawonggo, Tajinan, mengatakan, “Film ini sangat inspiratif dan edukatif bagi kami para guru. Tema yang diangkat jarang dibahas, padahal sangat penting.”
Sementara itu, seorang penonton bernama Ina mengungkapkan kekagumannya terhadap alur cerita film. “Alurnya sangat pas, ada ketegangan dan kejutan di akhir. Saya tidak menyangka bahwa teka-teki dalam cerita ini akan terjawab dengan sangat emosional.”

Film ini mengisahkan perjalanan Sofia, seorang perempuan mandiri dari Malang yang meninggalkan pekerjaannya demi bergabung dengan LSM Indonesia Bisa di Lombok. Di sana, ia mendampingi sekolah inklusi dan bertemu dengan Lembayung, seorang siswa ABK.
Melalui kisah ini, penonton diajak memahami berbagai tantangan pendidikan inklusi, mulai dari kurangnya pemahaman guru, mitos yang berkembang di masyarakat, hingga drama kehidupan pribadi Sofia yang penuh konflik.
Selain mengangkat isu sosial yang penting, film ini juga menampilkan keindahan alam Lombok yang memanjakan mata.
Acara ini sukses menarik perhatian banyak pihak, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi yang mendalam serta pemutaran film yang penuh makna menjadikan Navastra tahun ini sebagai momen berharga dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusi bagi ABK.
FS UM membuktikan bahwa seni dan edukasi dapat bersatu untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Film Lembayung di Langit Gili menjadi contoh bagaimana sinema bisa menjadi media edukasi yang efektif dan menyentuh hati. [dan/suf]






