Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) resmi melepas dr. Al Hafiz bin Ibrahim, peserta fellowship asal University Sains Malaysia (USM), pada Senin, 2 Februari 2026. Dokter Hafiz telah menuntaskan pendalaman keilmuan Intervention Pain Management (IPM) selama enam bulan penuh di Kota Pahlawan.
Program internasional yang dimulai sejak Agustus 2025 ini mengambil tempat di Rumah Sakit Haji Surabaya sebagai mitra klinis utama. Unusa memfokuskan pelatihan pada transfer ilmu manajemen nyeri menggunakan teknologi pemindaian ultrasonografi mutakhir bagi tenaga medis di level regional.
Koordinator program, dr. Rita Vivera Pane, menyatakan bahwa fellowship ini merupakan bentuk penguatan jejaring akademik global yang nyata. Menurutnya, FK Unusa terus berkomitmen mengembangkan kompetensi manajemen nyeri melalui kolaborasi lintas negara dan kolegium profesi yang kredibel.
“Program fellowship ini menjadi kontribusi kami dalam memperluas manfaat keilmuan hingga tingkat internasional,” ujar Rita dengan penuh optimisme.
Selama masa pendidikan, peserta menjalani serangkaian aktivitas klinis intensif, workshop teknis, hingga konferensi ilmiah berskala internasional. Dokter Al Hafiz merupakan peserta ketiga asal Malaysia yang mengikuti jejak rekan sejawatnya dalam menyelesaikan program spesialisasi serupa di Unusa.
“Selain memperdalam kompetensi klinis, saya berkesempatan berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan dokter muda di Indonesia,” ungkap dr. Hafiz mengenai pengalamannya. Ia mengaku mendapatkan perspektif baru yang sangat berharga selama menjalani praktik rehabilitasi medik di lingkungan rumah sakit di Surabaya.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menegaskan bahwa strategi internasionalisasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing kampus di mata dunia. Kolaborasi dengan USM Malaysia diharapkan terus meluas, mencakup bidang penelitian bersama serta inovasi layanan kesehatan modern yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Ke depan, kolaborasi dapat dikembangkan melalui pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, hingga pengembangan inovasi layanan kesehatan,” tandas Prof. Tri Yogi Yuwono. [ipl/beq]






