Banyuwangi (beritajatim.com) – Maraknya arus globalisasi bisa saja menggerus seni dan budaya lokal. Akan tetapi, Banyuwangi masih memiliki peranan penting untuk mempertahankan seni dan budayanya sendiri. Salah satunya melalui Festival Patrol dan Kundaran di bulan Ramadhan ini.
Keduanya merupakan tradisi khas masyarakat bumi Blambangan yang masih memiliki roh kuat dalam membangun kebersamaan dalam bingkai Ramadhan.
“Tradisi Patrol telah lama menjadi bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi. Sehingga kami berharap festival ini dapat memperkuat identitas lokal kita di tengah arus globalisasi,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka Festival Budaya Ramadan Patrol & Kundaran di Stadion Diponegoro.
Tak ubahnya seni pada umumnya, patrol adalah seni memainkan alat musik dari bambu. Pada mulanya, suara atau bunyi-bunyian berirama tersebut menjadi simbol untuk membangunkan warga untuk sahur.
Akan tetapi, saat ini tradisi tersebut justru menjadi pertunjukkan yang senantiasa dinanti setiap bulan puasa. Walhasil, banyak warga yang ingin menyaksikan Festival Patrol dan Kundaran tersebut.
Kondisi ini, menjadi salah satu tanda dan bukti masyarakat Banyuwangi bersemangat dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal. Khususnya Patrol dan Kundaran di tengah virus seni globalisasi.
“Semangat ini menjadi bukti masyarakat Banyuwangi terus mempertahankan dan mempromosikan warisan budaya lokal,” ucap Ipuk.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, Taufiq Rahman, setiap penampilan peserta patrol tersebut dinilai. Bahkan, mereka yang tampil merupakan hasil seleksi dari 25 kecamatan di Banyuwangi.
Taufik menyebut, kriteria penilaian patrol dan kundaran meliputi teknik atraksi, harmonisasi, penatar terbaik, tata busana terbaik, dan vokal terbaik.
“Termasuk untuk patrol penilaiannya juga didapatkan dari pawai yang dilakukan setelah penampilan,” ujar Taufiq.
Tambah menarik dan meriah, lantaran kegiatan ini ditambahkan dengan koreo yang beragam. Sehingga, festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi tetapi juga perayaan.
“Festival ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya Patrol dan Kundaran sebagai bagian dari identitas Banyuwangi yang unik dan kaya,” pungkasnya. [rin/aje]






