Surabaya (beritajatim.com) – Masyarakat Indonesia belakangan ini telah dihibur dengan berbagai konser yang digelar. Mengundang musisi – musisi tanah air yang lagu – lagunya dapat dinyanyikan dan menghibur banyak orang.
Datang ke sebuah konser musisi memang seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, sekaligus menjadi kesempatan untuk melepaskan penat ketika lelah beraktivitas. Sayangnya, beberapa konser yang digelar justru berakhir dengan tragis.
Salah satunya adalah Festival Berdendang Bergoyang yang seharusnya diselenggarakan pada tanggal 28, 29, dan 30 Oktober 2022. Namun terpaksa diberhentikan lantaran banyak orang yang terinjak – injak dan pingsan. Tidak hanya itu, beberapa pengunjung juga kehilangan barang mereka lantaran beredarnya copet dan maling.
Lalu ada juga konser di arena Jatim Fair Surabaya pada 7 – 13 Oktober 2022, tetapi lagi – lagi harus dibatalkan karena kericuhan yang menyebabkan 3 orang terluka pada hari kedua. Paling terbaru yakni kerusuhan dalam pertunjukan NCT 127, boyband asal Korea Selatan yang memasukkan negara Indonesia dalam daftar tur dunia mereka.
Kericuhan yang kerap terjadi dalam sebuah event musik ini tentu membuat bertanya – tanya, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah penyelenggara tidak belajar dari kesalahan-kesalahan sistem yang lalu? Bagaimana sistem penyelenggaraan konser di Indonesia sebenarnya?
Apabila kalian menginginkan sebuah perbaikan, maka tidak ada salahnya untuk berkaca pada sistem event negara lain, contohnya Jepang. Eits, tapi janganlah lebih dahulu minder mengingat Jepang memiliki perkembangan yang lebih maju, terutama pada ekonomi dan teknologi. Bukan berarti Indonesia tidak bisa menyerap hal – hal baik yang dimiliki Jepang lho!
Salah satu yang dapat dilirik adalah bagaimana Jepang dapat menyelenggarakan konser tanpa kericuhan, selalu aman, nyaman, dan tentunya berjalan dengan lancar. Rupanya, Jepang selalu memberlakukan sistem seat bernomor, sehingga setiap orang akan mendapat nomor yang bisa ia tempati ketika menonton konser.
Hal itu berlaku baik bagi konser indoor maupun outdoor. Apabila outdoor, yang biasanya menggunakan lapangan luas dengan penonton yang berdiri, penyelanggara konser di Jepang tetap memberikan nomor setiap seat dengan jarak aman. Sehingga penonton wajib berdiri pada nomor seatnya masing – masing, dan pastinya tidak boleh memasuk area orang lain.
Begitu pula untuk arena, indoor. Setiap penonton akan memiliki kursinya sendiri sehingga tidak berebut tempat dengan penonton lainnya. Dengan begitu keadaan pun akan kondusif.
Selain itu, ciri khas konser di Jepang lainnya adalah tidak memperbolehlan penonton menggunakan ponselnya untuk mengambil gambar ataupun video. Mungkin kalian heran, lantaran merasa bahwa melihat konser idola adalah momen yang wajib diabadikan.
Tetapi Jepang tidak ingin penonton menjadi fokus kepada ponselnya masing – masing dan tidak bisa menikmati suasana dan nyanyian dari musisi itu sendiri. Baik konser arti Jepang ataupun luar negeri, larangan selalu ada dan diberlakukan dengan ketat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”konser”]
Selain itu, Jepang selalu mementingkan kenyamanan para penonton agar tidak mengganggu satu sama lain. Seperti larangan untuk menggunakan topi besar atau sesuatu di kepala agar tidak menghalangi pandangan penonton di belakangnya.
Lalu bagi perempuan berambut panjang akan lebih disarankan untuk diikat agar orang lain tidak terganggu dengan terpaan rambut yang tanpa disadari berkibar – kibar.
Bagi mereka yang tidak mau mengikuti aturan dan larangan tersebut akan mendapat teguran, atau bahkan diusir dari arena tidak peduli jika ia sudah membayar tiket untuk menonton.
Jepang berlaku tegas agar konser berjalan sesuai dengan rencana, penonton nyaman, penyelenggara senang, idola pun merasa aman dan tidak segan untuk berkunjung lagi di lain waktu. Sepertinya, Indonesia boleh mencoba mengadakan peraturan tersebut dan melihat apakah membuat sistem event menjadi lebih baik. (mnd/ian)






