Jember (beritajatim.com) – Kurang lebih ada empat juta orang di Indonesia yang menderita autis. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, setiap tahun penderita autis semakin meningkat. Diperkirakan dalam setiap 100 hingga 150 kelahiran, ada satu anak yang terindikasi menderita autis.
Chandra Bumi, epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengatakan, saat ini semua pihak masih lebih banyak memperhatikan masalah kematian ibu dan anak, kurang gizi, dan penanganan tengkes (stunting). “Penderita autis belum tertangani dengan lebih baik,” katanya.
Sebagaimana halnya kasuus stunting, kasus penyakit autis berawal sejak masa kehamilan. Menurut Chandra, penyebab autis ditengarai bermula pada saat ibu hamil menerima paparan polusi, asap rokok, konsumsi alkohol dan lainnya. “Juga terdapat faktor genetis,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Kamis (6/4/2023).
Chandra menyarankan agar ibu hamil memeriksakan diri secara rutin ke dokter agar bisa mendeteksi dini ada tidaknya gejala autis. “Selain itu konsumsi makan bergizi dan vitamin selama kehamilan,” katanya.
Pria yang juga Kepala Unej Medical Center ini berharap orang tua yang dikaruniai anak autis bisa menerima dan memahami kondisi tyersebut. Autis masih belum bisa disembuhkan namun hanya bisa dikontrol.
Anak autis memiliki daya ingat yang kuat dan bisa fokus terhadap satu hal. “Para penderita ini harus mendapatkan penanganan yang tepat dan perlu mendapatkan fasilitas yang dapat menyalurkan kemampuan mereka,” kata Chandra. [wir]






