Malang (beritajatim.com) – Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menjadi isu bersama negara-negara di dunia. Masing-masing negara telah menyatakan komitmen penurunan emisi GRK.
Untuk Indonesia berjanji menurunkan Emisi GRK sampai tahun 2030 sebesar 29 persen. Dan bisa mencapai 41 persen jika tersedia bantuan internasional. Kebijakan melalui Nilai Ekonomi Karbon atau NEK menjadi salah satu instrumen yang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi GRK.
Untuk membahas isu itu, Institute of Certified Sustainability Practicioners (ICSP), dengan National Center for Corporate Reporting (NCCR) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) menggelar Seminar Nasional Keberlanjutan, dengan mengusung tema Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK), pada Sabtu (14/01/2023).
Nilai Ekonomi Karbon diharapkan menjadi mekanisme yang menjadikan aksi-aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim lebih efektif, efisien, inklusif, transparansi akuntabilitas serta berkeadilan.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo mengatakan, sebagai perguruan tinggi mereka berupaya aktif dalam konservasi. Salah satunya, dengan mengelola hutan bernama UB Forest seluas 544 hektare di Karangploso, Kabupaten Malang. 50 persen digunakan sebagai hutan produksi dan 50 persen sebagai hutan lindung.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Malang”]
“Tujuannya adalah untuk kelestarian alam itu, kemudian juga untuk buffering dari penyerapan air hujan dan juga untuk mencegah erosi ya yang ada di daerah situ. Kalau kita lihat di Google Maps yang warnanya hijau, yang di luar kita bisa lihat itu warnanya sudah tidak hijau,” kata Prof Widodo.
Sebagai informasi, tatalaksana Penerapan NEK telah diatur melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 21/2022 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan NEK.=
Saat ini Universitas Brawijaya memiliki program menanam pohon melalui kegiatan mahasiswa mengabdi di seribu desa. Targetnya dapat menanam pohon sebanyak 1 juta bibit secara bertahap. Secara bertahap akan ditanam hingga mencapai 1 juta pohon.
“Kemudian kita mencoba melakukan banyak inovasi di perguruan tinggi, banyak teman-teman melakukan riset dan inovasi, seperti bagaimana mengolah sampah yang bisa menjadi energi, kemudian penelitian-penelitian terkait tentang energi terbarukan ya Green Energy,” tandasnya. [luc/beq]






