Ringkasan Berita:
- Ahmad Sofyan, pemilik Topeng Konah Coffee and Roastery, menciptakan Ekotap dengan memadukan espresso, tape, susu, dan gula aren.
- Inovasi tersebut menggabungkan dua identitas unggulan Bondowoso, yakni kopi dan tape.
- Ekotap mendapat respons positif dari masyarakat, kalangan pemerintahan, hingga wisatawan.
- Sofyan berencana mengembangkan Ekotap menjadi produk bubuk instan dan berharap pemerintah mendukung inovasi UMKM berbasis potensi lokal.
Bondowoso (beritajatim.com) – Kreativitas pelaku usaha kopi di Kabupaten Bondowoso terus melahirkan inovasi baru. Salah satunya Ekotap atau es kopi tape, racikan minuman yang memadukan dua produk unggulan daerah, yakni kopi dan tape, menjadi sajian dengan cita rasa unik.
Inovasi tersebut digagas Ahmad Sofyan, pemilik Topeng Konah Coffee and Roastery di Desa Kalitapen, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Ia juga aktif dalam komunitas Barista Class yang menjadi wadah bagi para pegiat kopi untuk belajar dan mengembangkan kreativitas.
Ekotap terinspirasi dari identitas Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi yang telah dikenal hingga pasar global. Di sisi lain, Bondowoso juga memiliki tape sebagai produk khas yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sebelum mendeklarasikan diri sebagai Republik Kopi, Bondowoso lebih dahulu dikenal luas dengan julukan Kota Tape.
Ahmad Sofyan mencoba mempertemukan kedua potensi tersebut dalam satu menu yang dapat diterima berbagai kalangan, terutama anak muda dan wisatawan yang terbiasa menikmati minuman di kafe.
“Ekotap ini terinspirasi dari potensi unggulan Bondowoso, yaitu kopi yang sudah melegenda hingga dikenal secara global, serta tape Bondowoso yang menjadi warisan budaya takbenda. Kami mencoba memadukan keduanya menjadi minuman dengan cita rasa yang seimbang,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
Dalam proses pembuatannya, Ekotap menggunakan dua takaran espresso (double shot) dari racikan kopi house blend, tape yang telah matang sempurna, susu, serta gula aren dari Pulau Bawean. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan karakter rasa yang creamy dengan sensasi khas tape dan kopi.
Menurut Sofyan, respons masyarakat terhadap minuman racikannya cukup positif. Sejumlah kalangan, mulai dari jajaran pemerintahan hingga masyarakat dan wisatawan, menunjukkan antusiasme saat mencicipi Ekotap.
Ia berharap inovasi tersebut tidak hanya menjadi menu khas di kedainya, tetapi juga menginspirasi kafe-kafe lain di Bondowoso untuk menghadirkan kreasi serupa dengan mengangkat bahan baku lokal.
“Alhamdulillah, respons dari jajaran pemerintahan, masyarakat, hingga para wisatawan sangat antusias. Harapannya, Ekotap bisa semakin dikenal dan menjadi salah satu menu yang juga hadir di kafe-kafe di Bondowoso,” katanya.
Sofyan menilai, inovasi menu berbasis kopi lokal masih memiliki ruang pengembangan yang luas. Menurut dia, sejumlah kompetisi kopi selama ini lebih banyak berfokus pada kemampuan teknis barista, seperti cupping, teknik penyeduhan, dan metode V60.
Padahal, kreativitas dalam meracik menu juga berpotensi menjadi daya tarik tersendiri bagi industri kopi daerah. Karena itu, ia berharap ke depan terdapat ajang yang secara khusus memberikan ruang bagi para pelaku kopi untuk memperkenalkan karya dan inovasi menu mereka.
“Selama ini, dalam festival kopi, yang sering ada adalah lomba cupping, lomba seduh, dan V60. Untuk kompetisi kreasi menu masih belum banyak. Kalau ke depan ada lomba karya atau inovasi menu, kami ingin mengikutsertakan Ekotap,” jelasnya.
Dari sisi pengembangan pasar, Sofyan mengakui Ekotap saat ini masih disajikan secara langsung kepada pelanggan. Karakter minuman yang diracik dari bahan cair dan tape tersebut membuatnya belum praktis untuk dikemas dan dipasarkan secara lebih luas.
Namun, ia telah memiliki rencana untuk mengembangkan Ekotap dalam bentuk produk yang lebih praktis. Salah satu gagasannya adalah mengolah tape menjadi bubuk, kemudian memadukannya dengan kopi house blend dalam bentuk bubuk pula.
Dengan konsep tersebut, konsumen nantinya diharapkan dapat menikmati Ekotap di mana saja hanya dengan menyeduh campuran bahan yang telah disiapkan, lalu menambahkan es sesuai selera.
“Harapannya, Ekotap nanti bisa dikemas. Kami ingin mengembangkan tape dalam bentuk bubuk dan memadukannya dengan kopi house blend dalam bentuk bubuk juga. Jadi, konsumen tinggal menyeduh, menambahkan es, dan bisa menikmatinya di mana saja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sofyan berharap pemerintah daerah turut memberikan perhatian terhadap inovasi produk yang memanfaatkan potensi lokal Bondowoso. Dukungan tersebut dinilai penting agar kreativitas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak berhenti pada tahap penciptaan produk.
Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan dorongan, motivasi, dan fasilitasi agar produk inovatif berbasis kopi maupun tape dapat berkembang menjadi komoditas yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Ia juga mengusulkan agar produk-produk lokal hasil inovasi UMKM mendapat kesempatan untuk disajikan dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah, seperti rapat, pertemuan, maupun agenda lainnya.
“Harapannya, pemerintah terus mendorong, memotivasi, dan memfasilitasi para pelaku IKM maupun UMKM yang mengembangkan produk unggulan Bondowoso. Misalnya, ketika ada kegiatan atau pertemuan di pemerintahan, produk-produk seperti ini juga bisa disuguhkan,” pungkasnya.
Melalui Ekotap, Sofyan ingin menunjukkan bahwa kopi dan tape tidak hanya menjadi identitas Bondowoso, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang mengikuti selera pasar.
Perpaduan dua komoditas lokal itu sekaligus membuka peluang lahirnya inovasi kuliner baru yang memperkuat citra Bondowoso sebagai Kota Tape sekaligus Republik Kopi. [awi/beq]






