Iklan Banner Sukun
Ekbis

Tembakau untuk Pestisida Nabati dan Ampas Tebu untuk Bahan Genteng Karya Mahasiswa Unej

Salah satu petani yang akan memanen tanaman tembakaunya. (Foto/Endra Dwiono)

Jember (beritajatim.com) – Ada sekian inovasi di sektor pertanian yang digagas para mahasiswa Universitas Jember yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Salah satunya dengan memanfaatkan tembakau dan tebu yang memang menjadi tanaman budidaya petani setempat.

Novario Wahyu dan kawan-kawan membuat pestisida nabati berbahan tembakau di Desa Sukosari, Kecamatan Sukosari. Pestisida nabati tersebut memanfaatkan daun tembakau yang afkir atau rusak. “Walaupun pemasaran masih berpusat di kalangan internal Desa Sukosari namun kami berharap inovasi ini akan mampu menggerakkan roda perekonomian desa,” kata Novario, sebagaimana dilansir Humas Unej, Kamis (1/9/2022).

Cara pembuatan pestisida ini relatif mudah dan sederhana. Daun tembakau afkir tersebut ditumbuk dan dicampur dengan sedikit deterjen serta air. “Diamkan hasil campuran selama semalam dan saring sebelum dipakai menyemprot tanaman,” kata Novario.

Hasilnya? “Setelah diuji coba dan ternyata berhasil, kemudian kami memberikan sosialisasi pembuatan dan penggunaan pestisida nabati berbahan tembakau kepada petani Desa Sukosari. Alhamdulillah sudah banyak petani yang menggunakannya,” kata Novario.

Sementara itu, M. Zachrie dan kawan-kawan memanfaatkan ampas tebu di Desa Mangli Wetan, Kecamatan Tapen untuk bahan pembuatan genteng. Biasanya, ampas tebu lebih dimanfaatkan oleh warga untuk bahan bakar saja.

Cara pembuatan ampas tebu untuk bahan pembuatan genteng ini juga tergolong murah dan mudah. Ampas tebu dihaluskan dan disaring untuk kemudian dicampurkan ke dalam adonan bahan pembuatan genteng. Ampas tebu ini diharapkan mampu mengurangi takaran semen sekaligus memperkuat struktur genteng.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, Yuli Witono, mengatakan, para mahasiswa menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada 20 Juli hingga 23 Agustus 2022. KKN tersebut menekankan inovasi berbasis pada potensi desa, dan bisa berupa solusi permasalahan yang dihadapi masyarakat desa.

“Inovasi bisa bersifat kebaruan atau pengembangan dan penyempurnaan dari yang sudah ada. Kedua, hasil-hasil inovasi dan program yang dihasilkan mahasiswa menjadi bahan evaluasi dalam penyelenggaraan KKN selanjutnya,” kata Yuli. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar