Iklan Banner Sukun
Ekbis

Peternak Gresik Semakin Sekarat, Distan Gresik tidak Maksimal

Gresik (beritajatim.com)– Imbas menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat peternak di Gresik semakin sekarat. Pasalnya, banyak ratusan ternak mati sia-sia karena terserang virus yang mematikan tersebut. Sementara Dinas Pertanian (Distan) setempat tidak bisa berbuat maksimal karena banyaknya ternak mati terkena penyakit PMK.

Sulaiman (65) salah satu peternak sapi asal Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti, Gresik menceritakan kondisi sapi miliknya ada yang sehat, dan ada pula yang tidak sehat. “Dari 12 ekor sapi yang masuk kategori induk. Ada 9 ekor anak sapi, sementara yang mati akibat terkena penyakit PMK 7 ekor,” ujarnya, Kamis (12/05/2022).

Ia menjelaskan bila ada sapi yang sekarat terkena PMK. Dirinya terpaksa melakukan pemotongan. Langkah ini diambil untuk menutup kerugian yang dialami bagi peternak. “Kalau sudah dipotong paksa peternak tidak bisa memberlakukan harga. Padahal, bila normal harga per ekor sapi bisa dihargai sebesar Rp 25 juta per ekor,” paparnya.

Selama lanjut dia, untuk meminimalisir agar sapi tidak terserang PMK lebih banyak lagi. Dinas Pertanian (Distan) Gresik malah menyarankan diberi gula dan garam. Ini dilakukan supaya sapi bisa bertahan dan sembuh kembali bila sudah tersangka penyakit.

“Meski sapi saya sudah saya asuransikan. Namun, kondisi tersebut belum bisa menutupi kebutuhan selama merawatnya. Kalau induk sapi meninggal asuransinya cuma Rp 10 juta sementara dipotong paksa Rp 5 juta,” ungkap Sulaiman.

Merebaknya kasus penyakit PMK ini kata dia, paling parah yang dihadapi peternak. Padahal, selama puluhan tahun belum pernah ada kejadian seperti ini. Dimana, peternak mengalami kerugian besar akibat virus PMK.

Menanggapi kejadian ini anggota Komisi III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi menyatakan pemerintah daerah harus turun memberikan penyuluhan, dan pengamanan memberi obat serta vitamin agar penyebaran PMK cepat selesai.

“Saya berharap Distan Gresik tidak melihat kasus ini satu tempat, tapi juga di tempat lain. Seharusnya, dinas terkait turun ke lapangan. Sebab, selama ini data yang dipublish dinas tersebut banyak yang berbeda terkait dengan penyakit PMK,” pungkasnya. [dny/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar