Ekbis

Pelaku Kesenian Sandur Bangkit Pasca 65

Bojonegoro (beritajatim.com) – Banyak dari pelaku kesenian tradisional Sandur yang masih terbayang sejarah kelam politik era 1965. Bahkan, untuk sekadar bercerita tentang sejarah Sandur saja, mereka ada yang masih takut. Para pelaku kesenian tradisional itu kebanyakan dicap sebagai Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia).

“Di Kelurahan Ledok Kulon yang dulu banyak kelompok kesenian tradisional, setelah tahun 65 semua pelaku tiba-tiba hilang. Memang ada yang dibawa ke Pulau Buru maupun hilang tak tahu kemana,” ujar salah seorang pelaku Sandur Sekar Sari di Kelurahan Ledok Kulon Kabupaten Bojonegoro, Agus Sigro, Kamis (13/8/2020).

Sandur sendiri setelah tragedi 65, juga sempat mengalami mati suri. Para pelaku berusaha mengubur kesenian yang menjadi pelengkap jiwanya dalam kehidupan. Hingga akhirnya, ada salah satu tokoh yang berani memunculkan kembali pertunjukkan Sandur. “Awal kali setelah mati suri, Sandur dipentaskan lagi sekitar tahun 1989,” ujarnya.

Pencetus kembali digelarnya blabar janur kuning atau arena pertunjukan Sandur adalah almarhum Mbah Sukadi. Dia merupakan Germo atau pelaku yang mengendalikan dalam pertunjukkan Sandur. “Pada saat itu, Mbah Sukadi meyakini bahwa dia tidak terlibat dalam gerakan politik praktis yang terjadi. Sehingga tidak ada beban untuk mementaskan lagi Sandur,” terangnya.

Secara bentuk pertunjukkan, kesenian tradisional Sandur dihadirkan dalam sebuah blabar janur kuning yang digelar di tanah lapang. Dimainkan pada malam hari hingga menjelang pagi. Di dalam pertunjukkan ada beberapa pemain atau biasa disebut anak wayang, Pethak, Balong, Cawik, dan Wak Tangsil. Selain itu, ada Germo, Panjak Hore, Panjak Musik, dan pemain tambahan biasanya Siti Gemek Sundarminah.

Dari segi cerita, Sandur yang masih dipentaskan secara pakem menghadirkan isu agraris. Secara pakem, Sandur dipentaskan untuk beberapa acara ritual, baik pengobatan, acara sedekah bumi, hajatan, nadzar, dan sarana pengobatan. Sedangkan yang sudah dikembangkan sebagai bentuk pertunjukkan seni Sandur mengangkat tema keseharian yang sedang terjadi.

Secara perkembangan, Sandur sekarang lebih fleksibel dan bisa masuk dalam berbagai fungsi seni. Seperti yang disampaikan oleh Eko PeYe, Sandur bisa dihadirkan dalam bentuk seni rupa, wayang Sandur, maupun pantomim. “Sandur akhirnya menjadi medium yang bisa diapresiasi dengan banyak hal,” ungkapnya dalam Bincang Sandur yang digelar oleh Kelompok Sandur Kembang Desa Bojonegoro. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar