Ekbis

Lebih Suka Hibrida, Petani Belum Terbiasa Tanam Padi Lokal

Dosen dan peneliti Fakultas Pertanian Universitas Jember, Mohammad Ubaidillah,

Jember (beritajatim.com) – Petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum terbiasa menanam pada lokal. Mereka lebih suka menanam padu hibrida seperti IR-64. Padahal padi lokal memiliki keunggulan tersendiri.

Keengganan petani menanam padi lokal karena umur tanamnya lama dan produktivitasnya rendah. Ini berbanding terbalik dengan padi hibrida seperti jenis IR-64, yang dalam jangka waktu 125 hari sudah bisa dipanen. Produktivitasnya per hektare juga lebih baik.

Padahal sesungguhnya, menurut dosen dan peneliti Fakultas Pertanian Universitas Jember, Mohammad Ubaidillah, padi hibrida memiliki kekurangan. “Karena bukan plasma nutfah lokal, maka (padi hibrida) rentan terhadap gangguan hama dan tidak selalu cocok ditanam di semua wilayah di Indonesia,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Rabu (12/5/2021).

Ini berbeda dengan padi lokal. “Padi lokal sudah terbukti cocok dengan lingkungan dan iklim setempat,” kata doktor lulusan Kyungpook National University Korea Selatan ini.

Laboratorium Program Studi Agroteknologi dan laboratorium CDAST (Center for Development of Advanced Science and Technology) Universitas Jember menyimpan kurang lebih 100 plasma nutfah padi lokal dan 20 plasma nutfah padi dari Jepang, Korea Selatan, dan China. Koleksi plasma nutfah padi lokal antara lain padi varietas Bondowoso-1, bulu hideung, ketan keuyup, merah wangi, kewah gudril, dan lainnya. Sementara plasma nutfah padi non lokal di antaranya Nippon Barre dari Jepang.

Ubaidillah saat ini mengembangkan varietas baru berbasis plasma nutfah padi lokal, khususnya riset padi berwarna. Dia berusaha menyilangkan padi lokal jenis hitam dari Jawa Timur dengan padi lokal jenis cupu slamet dari Jawa Tengah.Padi lokal seperti jenis hitam dan cupu slamet umumnya memiliki ukuran yang tinggi dengan anakan sedikit. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar