Surabaya (beritajatim.com) – Dosen FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Dwi Astutiek, angkat bicara soal gempuran narasi negatif yang belakangan ini diarahkan secara sistematis terhadap Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Dia menyebut serangan ini bukanlah peristiwa biasa, melainkan bagian dari skenario besar yang disusun dengan penuh perhitungan dan motif politik terselubung.
Menurut Dwi, selama lebih dari dua minggu terakhir, serangan terhadap Khofifah berlangsung secara masif, terstruktur, dan sangat terencana. Narasi yang dibangun tidak hanya melemahkan performa politik Khofifah, tetapi juga menyudutkan pribadinya sebagai pemimpin. “Kemungkinan pertama, ada indikasi kuat bahwa ini adalah ulah Barisan Sakit Hati (BSH),” ujar Dwi, Kamis (1/5/2025).
Dia menjelaskan, dalam setiap kontestasi politik, selalu ada kelompok yang kecewa karena jagonya kalah. Residunya tidak hilang begitu saja, dan bisa berubah menjadi gerakan yang destruktif.
Terlebih jika tokoh yang dimusuhi seperti Khofifah, memiliki basis kuat di akar rumput dan sejarah panjang dalam birokrasi serta organisasi keagamaan. Namun menurutnya, kemungkinan kedua jauh lebih serius.
“Ada tanda-tanda bahwa ini digerakkan oleh tokoh-tokoh politik yang sedang membangun jalan menuju Pilpres 2029. Mereka melihat Khofifah sebagai ancaman serius,” lanjutnya.
Dwi menambahkan, sangat mungkin kedua kelompok itu—Barisan Sakit Hati dan para aktor politik—sedang bekerja bersama atau saling memanfaatkan. Tujuannya satu yaitu meruntuhkan pamor Khofifah, melemahkan pengaruh politiknya, dan mencegahnya tumbuh lebih besar dari para kompetitor.
Bentuk serangannya pun tak lagi halus. Khofifah dituding hanya pandai bersolek di media sosial, dianggap tak becus bekerja, dan bahkan disandingkan secara tidak adil dengan sejumlah kepala daerah lain. Salah satunya adalah saat Khofifah mempromosikan buah durian dari Blitar.
“Ibu Khofifah membantu petani durian, lalu diserang. Dibilang gubernur kok jualan durian. Padahal itu bagian dari strategi marketing digital yang efektif dan berpihak pada rakyat,” tegasnya.

Menurut Dwi, tindakan seperti itu justru menunjukkan keberpihakan pemimpin kepada rakyatnya. Namun di tangan lawan politik, momen tersebut dipelintir, disandingkan dengan kasus lain, dan dipotong visualnya agar menyesatkan opini publik.
Tak hanya itu, kegiatan sholawatan yang merupakan tradisi Nahdliyin pun ikut diserang. Dwi menyebut ini sebagai bentuk kedangkalan dalam memaknai nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Jawa Timur. “Mereka memotong visual, membuat narasi sesat, seolah sholawatan adalah tindakan yang layak dicemooh. Padahal itulah akar spiritual dan identitas warga NU,” kritiknya.
Dalam pandangan Dwi, publik seharusnya melihat prestasi Khofifah secara objektif. Di bawah kepemimpinannya, Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan signifikan di berbagai sektor, termasuk ekonomi, kesejahteraan, dan pertanian. “Luas panen kita tahun ini tertinggi di Indonesia. Kontribusi ekonomi kreatif juga nomor dua setelah DKI Jakarta. Apa ini bukan kerja nyata?” ujarnya.
Dwi menyampaikan pesan tajam kepada mereka yang terus menyerang Khofifah tanpa dasar. “Kalau ingin tahu kinerjanya, tanya pada masyarakat Jawa Timur, bukan kepada kelompok yang sakit hati atau punya agenda politik terselubung,” pungkasnya.[asg/kun]






