Surabaya (beritajatim.com) – Dunning-Kruger Effect dalam psikologi diartikan sebagai bias kognitif yang terjadi saat seseorang dengan pengetahuan atau kompetensi yang terbatas, namun berlebihan dalam menafsirkan kemampuan dirinya atau overestimate.
Menurut penelitian dari David Dunning dan Justin Kruger, kemampuan metakognitif (kemampuan berpikir tentang terjadinya proses berpikir pada diri sendiri.
Sehingga seseorang dalam mengenali kekurangan kompetensi maupun pengetahuan dalam suatu bidang harus ada keseimbangan dengan kompetensi atau pengetahuan dasar tentang bidang itu terlebih dulu. Jika kedua hal tersebut tidak sinkron, bisa terjadi Dunning Kruger Effect.
Misalnya, saat seseorang sebenarnya tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang sastra, lalu berkata “sastra ya begitu-begitu saja, tidak ada perkembangan.” Padahal, jika mempelajari sastra secara benar. Banyak teori, kajian, dan seluk beluk yang mesti dipahami secara rigid.
Seseorang yang mengalami ini tidak akan sadar dengan kekurangan tentang pengetahuan atau kompetensi dalam bidang tersebut. Dia akan merasa bisa-bisa saja.
Saat merasa tahu akan suatu bidang padahal sebenarnya tidak kompeten dalam bidang itu, dia bisa saja menjerumuskan dengan memberi informasi yang porsinya kecil itu ke lebih banyak orang.
Kekhawatiran tentang “salah tafsir” terhadap kemampuan diri sendiri ini, bahkan sudah jadi fokus para penulis maupun ilmuwan yang akrab dengan proses berpikir rumit.
Misalnya saja yang dilakukan Alexander Pope dalam esai yang ditulisnya Essay on Criticism (1709), bahwa “A little knowledge is a dangerous thing”. Pope menerangkan jika pengetahuan kecil adalah pemikiran yang berbahaya.
Begitu juga dengan Charles Darwin, sang Bapak Evolusi, dalam bukunya The Descent of Man, berkata bahwa “Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge”. Artinya, ketidaktahuan itu justru yang paling sering membuat orang percaya diri daripada pengetahuan itu sendiri.
Dunning Kruger Effect masih diteliti hingga hari ini, tapi adanya teori tentang efek ini membuat kita sadar harus peduli dengan kompetensi dalam suatu bidang.
Rasa percaya diri yang baik muncul dengan sendirinya saat seseorang memiliki kemampuan ataupun pengetahuan yang mumpuni dalam suatu bidang, tapi tetap sadar jika dirinya pasti masih punya banyak keterbatasan dan banyak hal yang bisa dipelajari lagi. (dan/ian)






