Surabaya (beritajatim.com) – Errol Jonathans, sosok jurnalis senior di Surabaya, Jawa Timur, telah berpulang. Kiprah jurnalis yang mendirikan radio terbesar di Surabaya bahkan Jawa Timur ini pergi untuk selamanya di usia 63 tahun. Almarhum meninggalkan dua anak serta istri tercinta Bernadete Nunung Jonathans.
Errol memiliki pengalaman kurang lebih 30 tahun di dunia radio. Publik di Jatim sangat kehilangan atas kepergian sosok yang merintis dunia penyiaran ini. Hal itu terlihat dari berbagai ucapan bela sungkawa dari berbagai pihak. Semisal dari jajaran Polda Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”jurnalis”]
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Gatot Repli mengaku kehilangan sosok pemimpin Radio SS (Suara Surabaya) ini. Menurutnya, almarhum adalah sosok yang baik dan supel. Kerjasama antara Polda Jawa Timur juga sangat baik. Sehingga sebagai perwakilan pimpinan Polri di Jawa Timur Kombes Gatot turut hadir sebagai penghormatan terakhir bagi almarhum di Rumah Adi Jasa.
“Beliau ini orang baik dan patut menjadi panutan. Kerjasama dengan Polda Jatim dalam menyampaikan informasi yang mendidik juga baik,” jelasnya kepada jurnalis di Rumah Adi Jasa.
Errol, pendiri Radio Suara Surabaya yang mengenyam pendidikan di Akademi Wartawan Surabaya ( AWS) ini mengawali karier di radio Arjuna. Beberapa media juga menyebutkan bahwa Errol pindah dan memulai profesinya sebagai wartawan di Pos Kota koresponden Jawa Timur.
Setelah manajemen Pos Kota menerbitkan koran Harian Surya di Surabaya, Errol dipindahkan ke Surya, sebelum akhirnya kepemilikan Surya diambil oleh manajemen Kompas Gramedia. Errol keluar, kemudian bersama pengusaha Alm Soetojo Soekomihardjo tahun 1983 mendirikan Radio Suara Surabaya yang sekarang berusia 38 tahun.
Ketua PWI Jawa Timur, Ainur Rohim mengungkapkan hal serupa. Dia sangat kehilangan atas kepergian koleganya itu. Ainur Rohim mengungkapkan bahwa alm Errol sangat menginspirasi. Sosok jurnalis senior dan pendiri media, almarhum juga low profile.
Bahkan pengalaman saat mengajar bersama di Universitas Katholik Widya Mandala, Errol menunjukkan orang yang rendah hati. Bahkan almarhum bisa disebut sebagai sosok yang patut menjadi panutan jurnalis muda.

Namun, yang membuat Ketua PWI Jawa Timur ini mengingat adalah konsistensi Errol dalam membangun media yang baik. Artinya, tak hanya konsisten dalam kode etik junalistik dan UU Pers, dari sisi bisnis media juga patut menjadi inspirasi.
“Yang mesti dipelajari dari almarhum adalah beliau ini low profile dan mengayomi. Sebagai sosok yang senior beliau ini banyak memberikan pelajaran buat jurnalis muda,” katanya.
Sementara itu, anak kedua almarhum, Matthieu Errol Jhonathans menjelaskan bahwa dirinya berada di Jakarta dan mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal. Kini jenazah masih berada di Rumah Persemayaman Adi Jasa. Para keluarga besar, rekan bisnis dan rekan jurnalis juga memberikan penghormatan terakhir.
Ia menjelaskan, sang ayah mengalami sakit komplikasi dan meninggal di RS Husadha Utama pada Selasa (25/5/2021) sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelumnya pada awal Mei 2021, almarhum juga sempat dirawat di RS Mata Undaan karena didera infeksi mata.
“Saya dapat kabar saat di Jakarta. Rencana almarhum ayah disemayamkan Kamis (27/5/2021) di pemakaman umum Keputih,” katanya singkat didampingi sang kakak Damien Errol Jonathans.
Selamat jalan senior, panutan yang rendah hati. Kesederhanaanmu dalam membangun diri dan jurnalistik sangat lekat dalam ingatan kami. Surga tempatmu. [man/suf]






