Madiun (beritajatim.com) – Manajemen SMA Negeri 3 Taruna Angkasa Madiun akhirnya merespons polemik dugaan kekerasan yang mencoreng institusi pendidikan tersebut dengan mengungkap fakta hasil investigasi internal. Pihak sekolah membenarkan adanya keterlibatan sepuluh taruna senior dalam insiden pemukulan terhadap siswa junior yang belakangan menjadi sorotan publik.
Kepala Sekolah SMAN 3 Taruna Angkasa, Agus Supriyono, menyatakan bahwa pendalaman kasus telah dilakukan secara intensif segera setelah isu tersebut mencuat. Hasil pemeriksaan awal mengonfirmasi dugaan partisipasi para senior dalam tindakan fisik tersebut. Ia juga secara implisit mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan.
“Kami sangat menyesalkan terjadinya insiden ini. Tim sekolah langsung turun melakukan pemeriksaan sejak laporan diterima,” jelasnya, Kamis (4/12/2025).
Agus memastikan seluruh siswa yang teridentifikasi terlibat telah menjalani proses klarifikasi dan langsung dijatuhi sanksi disiplin sesuai aturan ketarunaan yang berlaku. Selain tindakan internal, sekolah juga segera memanggil orang tua para pelaku untuk memastikan proses pembinaan berjalan dua arah dan efektif.
“Pendampingan akan melibatkan orang tua. Kami ingin prosesnya komprehensif, bukan sekadar penjatuhan sanksi,” tambahnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral institusi, pihak sekolah secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban. Agus menegaskan bahwa keselamatan peserta didik adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar, dan insiden ini menjadi bahan evaluasi total bagi manajemen.
“Kami memohon maaf dan memastikan kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Ini pukulan keras bagi kami,” ucapnya.
Mengenai langkah hukum yang saat ini ditempuh oleh keluarga korban, manajemen SMAN 3 Taruna Angkasa memilih sikap kooperatif. Agus menegaskan bahwa pihaknya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya dan siap memberikan data yang dibutuhkan oleh pihak kepolisian untuk kepentingan penyidikan.
“Sekolah menghormati proses yang berjalan. Tidak ada upaya menutupi atau menghalangi penyidikan,” tegasnya.
Ke depan, sekolah berkomitmen melakukan perombakan pada sistem pengawasan dan mekanisme pembinaan karakter taruna-taruni untuk mencegah berulangnya budaya kekerasan senioritas.
“Pengawasan akan diperketat. Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman, bukan arena kekerasan,” tandasnya. [rbr/beq]






