Jember (beritajatim.com) – Dua tim sepak bola Kabupaten Jember, putra dan putri, gagal total dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VIII. Mereka tersingkir di babak penyisihan grup.
Tim sepak bola putra Jember yang datang dengan status juara bertahan terpuruk menjadi juara kunci Grup D tahun ini dengan nilai 3 dari 1 kemenangan, 2 kekalahan, dan selisih gol 4-5. Anak asuhan M. Rofiq ini kalah 2-4 dari Kabupaten Trenggalek dan 0-1 dari Tulungagung, dan menang 2-0 atas Lamongan.
Sementara tim sepak bola putri menduduki peringkat kedua Grup A. Setelah kalah 1-6 dari tuan rumah Sidoarjo, mereka berhasil menang telak 4-1 atas tim sepak bola putri Kota Kediri. Namun kemenangan itu tak cukup untuk meloloskan mereka sebagai runner-up grup terbaik.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (Askab) PSSI Jember Try Sandi Apriana mengatakan, tim sepak bola putra Jember sebenarnya sudah bermain bagus. “Semua sudah maksimal. Mereka bisa mengontrol semua pertandingan,” katanya.
Problem yang dihadapi tim sepak bola putra Jember adalah masih adanya mental individu. “Masih ingin menunjukkan ‘ini lho aku pemain porprov’. Anak-anak ini kan masih remaja, usianya 17-18 tahun. Masih sering kecolongan (permainan lawan). Mereka tidak menduga model permainan lawan,” kata Sandi.
Selain itu, menurut Sandi, pemain juga terbebani predikat juara bertahan. “Anak-anak bermain ada beban. Kemarin bisa juara, masa sekarang penyisihan grup tidak lolos. Pemikiran ini yang membuat permainan mereka tidak indah. Ngoyo, tapi tidak kontrol,” katanya.
Menurut Sandi, ketidakmatangan tim yang diperkuat pemain muda merupakan risiko yang harus diambil. “Kami pakai pemain yang usianya muda. Mereka bagus, karena sejak usia dini kami bentuk. Kami sudah menemukan potensi mereka sejak Piala Suratin,” katanya.
Kendati gagal tahun ini, Sandi yakin Jember akan menuai prestasi lebih baik dalam porprov mendatang. “Bismillah. Para pemain ini kan rata-rata masih usia belasan tahun. Mereka masih berkesempatan main di porprov berikutnya. Itulah kami menggunakan pemain yang bisa ikut porprov dua kali, sehingga ada pengalaman,” kata Sandi.
Ini berbeda dengan tim sepak bola Jember yang menjuarai Porprov VII. Tim ini lebih matang dari segi usia, namun tidak bisa dimainkan lagi pada Porprov VIII karena melebihi batasan usia. Hanya ada tiga pemain yang bertahan karena usia masih memungkinkan, yakni Rahmad Taufiq Hidayat (penjaga gawang), Muhammad Samsul Arifin (penyerang), dan sang kapten Bagas Prasetyo.
“Kalau tim ini sepertinya masih akan bisa bermain dalam Porprov Jatim 2025. Yang penting peforma individual mereka tidak turun,” kata Sandi.
Namun M. Rofiq, pelatih tim sepak bola putra Jember, meminta agar tim dipersiapkan lebih matang lagi dalam porpriv mendatang. Tahun ini, tim Jember hanya melakukan 16 kali latihan. “Persiapan kami sangat kurang. Kami beruji coba dengan tim lokal tiga empat kali dan dengan Lumajang satu kali. Kalau porprov tahun lalu, kami persiapan tiga bulan, satu minggu bisa 4-5 kali latihan,” katanya.
Sementara itu untuk tim sepak bola putri, Sandi tidak bisa bicara banyak. “Selama di Jember belum ada klub sepak bola putri, ya siapa yang mau bermain akan diseleksi. Jadi kami tidak berekspektasi lebih kalau sepak bola putri,” katanya.
“Ini pelajaran untuk tim sepak bola putri Jember. Mereka kan berniat bisa (berangkat dengan biaya) mandiri. Cuma, kalau mandiri tapi kemampuannya seperti ini kan tahun depan kami evaluasi lagi untuk berangkat atau tidak,” kata Sandi. [wir]






