Mojokerto (beritajatim.com) – Jalur Gotekan di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto tidak ideal. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono.
Landasan jalur penyelamat di Gotekan dinilai lebih rendah dari jalur Cangar-Pacet. Menurutnya, seharusnya jalur penyelamat dibuat layaknya sebuah tanjakan dengan panjang ideal landasan antara 30-50 meter. Selain itu, landasan diuruk dengan batu apung layaknya di lintasan balap.
Sehingga benar-benar mampu menghentikan laju kendaraan yang rem blong tanpa menabrak karung ujung jalur penyelamat. Pasalnya, kecepatan kendaraan yang mengalami rem blong sangat tinggi. Sehingga pengendaraan akan menghantam pagar peredam di ujung jalur penyelamat masih dengan kecepatan tinggi.
“Jalur penyelamat yang ada sekarang tidak representatif. Sebenarnya ada teknik pembuatan jalur penyelamat yang ideal. Lantai bukan pasir maupun sekam karena kena hujan semakin padat. Yang ideal batu apung seperti di sirkuit balap,” ungkapnya, Selasa (18/10/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”jalur-cangar-pacet”]
Permukaan jalur penyelamat lebih rendah dari jalan membuat kendaraan terbang. Menurutnya, seharusnya permukaan jalur penyelamat dibuat lebih tinggi atau menanjak dari jalan. Menurutnya jalur alternatif Batu-Mojokerto tersebut tidak representatif kalau menjadi jalur ganda.
“Yang paling tepat adalah memisahkan jalur. Termasuk bagaimana mempersiapkan jalur pengamanan yang representatif. Itu sudah tidak memenuhi syarat. Terlepas dari panjang dan sebagainya jalur penyelamatan ada teknis pembuatan penyelamatan yang ideal. Bukan pasir atau sekam tapi batu apung,” tegasnya.
Jalur Cangar-Pacet menjadi jalur alternatif masyarakat, apalagi weekend. Namun angka kecelakaan di jalur tersebut cukup tinggi. Satlantas Polres Mojokerto mencatat sudah terjadi 20 kecelakaan sejak awal tahun 2022 sampai bulan Oktober ini. Jumlah korban tewas sebanyak tiga orang, satu luka berat, dan 26 luka ringan. [tin/ted]






