Surabaya (beritajatim.com) – Komisi A DPRD Surabaya mengungkap sejumlah temuan penting setelah melakukan kunjungan kerja ke Command Center 112. Temuan tersebut meliputi alat pemadam api yang sudah kadaluarsa hingga sistem yang dianggap belum memadai untuk mendukung respons darurat yang efektif.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menegaskan pentingnya standar keamanan di fasilitas ini. Dalam inspeksi, ditemukan empat Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang sudah kadaluarsa sejak 2021, jauh melampaui masa efektif penggunaannya.
“Ruang Command Center ini sangat krusial. Ini bukan hanya berkaitan dengan keamanan petugas, tetapi juga keselamatan warga Surabaya yang membutuhkan pertolongan darurat,” ujar Yona.
Selain masalah alat pemadam api, Yona juga menyoroti risiko kebakaran di fasilitas yang beroperasi 24 jam dengan ratusan monitor aktif. Ia mengingatkan bahwa jika terjadi korsleting listrik, alat pemadam yang tidak memadai bisa memperburuk situasi.
“Kami memberikan waktu sepekan untuk membenahi kekurangan ini, terutama APAR yang sudah kadaluarsa,” tegasnya.
Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Surabaya, Tubagus Lukman Amin, menemukan kerusakan pada 14 monitor yang digunakan untuk memantau CCTV di seluruh kota. Kerusakan ini menghambat fungsi vital pengawasan di Command Center.
“Ini perlu menjadi perhatian serius. CC112 adalah objek vital, yang menyangkut keselamatan seluruh warga Surabaya,” kata Lukman.
Masalah teknis lain yang ditemukan adalah sistem pendingin ruangan yang tidak memadai. Udara panas dari perangkat elektronik berpotensi memicu korsleting listrik jika tidak ditangani dengan baik.
“Jika Command Center bermasalah, kemana lagi warga bisa melapor saat darurat?” tegas Ketua Fraksi PKB DPRD Surabaya.
Politisi PSI, Pdt Rio Pattiselano, mengkritik waktu respons Command Center 112 yang dianggap lamban. Meski pihak BPBD menyebutkan waktu respons sekitar tujuh menit setelah telepon diterima, Rio menilai keluhan warga tentang kesulitan menghubungi CC112 perlu menjadi perhatian.
“Kami meminta agar jalur telepon diperbaiki. Sistem komunikasi yang lambat bisa berbahaya dalam keadaan darurat,” ujar Rio.
Ia juga mengusulkan pelatihan khusus bagi petugas agar mereka dapat memberikan saran dasar psikologi dan medis kepada pelapor yang panik atau dalam kondisi darurat medis.
“Petugas harus bisa memberikan bantuan informasi sambil menunggu tim medis atau petugas lainnya datang,” tambah Rio.
Komisi A DPRD Surabaya menegaskan agar semua temuan ini segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kota untuk memastikan Command Center 112 dapat beroperasi secara optimal dan tanpa hambatan dalam menghadapi situasi darurat. [ADV]






