Lamongan (beritajatim.com) – Anggota DPRD Lamongan, Anshori mendesak kepada Pemkab Lamongan agar memaksimalkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp15 miliar untuk penanganan banjir di Lamongan.
Politisi Partai Gerindra itu juga mengimbau agar seluruh petambak yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Lamongan diberikan bantuan oleh pemerintah.
“Kalau anggaran di OPD tidak ada atau tidak cukup, Fraksi Gerindra berharap agar anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) pada tahun 2023 sebesar Rp15 miliar digunakan semaksimal mungkin untuk penanganan banjir dan membantu masyarakat terdampak bencana banjir,” kata Anshori, Jumat (24/2/2023).
Anshori menjelaskan, bencana banjir yang terjadi pada tahun ini cukup parah hingga menyebabkan banyak petambak yang gagal panen. Sehingga sudah sewajarnya para petambak menerima bantuan untuk meringankan beban yang harus mereka tanggung.
[berita-terkait number=”5″ tag=”DPRD-Lamongan”]
“Banyak para petambak yang terdampak dan gagal panen karena banjir luapan Sungai Bengawan Jero ini. Sehingga mereka juga perlu mendapat bantuan, apakah itu melalui bantuan bibit ikan, waring atau lainnya,” terang pria yang akrab disapa Gus Anshori itu.
Disebutkan oleh Anshori, serapan anggaran BTT tiap tahunnya terbilang sangat rendah dan tidak maksimal. Padahal, tegas Anshori, anggaran BTT bisa digunakan untuk penanganan bencana banjir yang tiap tahun melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamongan.
Anshori bahkan menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten Lamongan yang hanya mengklaim soal tingginya produksi ikan yang dihasilkan. Ia menilai, selama ini para petambak juga hanya di data tanpa diikuti dengan kebijakan yang benar-benar memihak mereka.
“Banyak masyarakat yang butuh bantuan, terutama para petambak yang gagal panen akibat banjir belum tersentuh bantuan pemerintah. Padahal kalau produksi ikan tinggi, selalu diklaim sebagai keberhasilan pemerintah, sedangkan ketika terjadi bencana banjir, para petambak hanya didata tambaknya, tapi setelah itu tidak diikuti dengan kebijakan pemerintah daerah yang bisa membantu para petambak,” tukasnya.
Seperti diberitakan beritajatim.com sebelumnya, banjir akibat luapan Bengawan Jero di Lamongan semakin meluas. Tercatat, ada 5.900 rumah milik warga di 45 desa di 6 Kecamatan yang terendam banjir.
Adapun 6 kecamatan yang terdampak banjir luapan Sungai Bengawan Jero itu meliputi Kecamatan Deket, Glagah, Karanggeneng, Karangbinangun, Kalitengah dan Kecamatan Turi. Selain rumah, juga terdapat 80 kilometer jalan dan 50 lebih fasilitas pendidikan yang terdampak.[riq/kun]






