Surabaya (beritajatim.com) – Ironi menyelimuti panen raya padi di Jawa Timur. Di tengah produksi gabah yang melimpah, harga gabah kering panen (GKP) justru merosot tajam di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Situasi ini memicu kekhawatiran akan gejolak pasar dan potensi kerugian yang dialami petani.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Erma Susanti, menyoroti harga GKP yang kini berada di bawah Rp6.500 per kilogram, jauh dari acuan harga yang seharusnya dipedomani oleh Bulog maupun pelaku pasar sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 2 Tahun 2024.
“Kemarin kita temukan di bawah, ada masalah terkait dengan harga gabah yang saya pantau di beberapa tempat itu sudah di bawah Rp6.500 per kilo,” ujar Erma di Gedung DPRD Jawa Timur, Rabu (16/4/2025).
Menurut Erma, jika situasi ini tidak segera direspon dengan intervensi pemerintah, maka dampaknya bisa meluas. Panen raya yang sejatinya menjadi momen keuntungan bagi petani justru berisiko menjadi penyebab inflasi akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan serapan pasar.
“Ini yang perlu diantisipasi, jangan sampai panen raya menjadi pemicu gejolak harga. Kita sudah menghitung terkait lahan dan produktivitasnya, sehingga harus benar-benar terserap agar tidak mengganggu inflasi dan pasokan beras,” jelasnya.
Jawa Timur merupakan salah satu lumbung padi nasional yang menyumbang hampir 18 persen produksi beras nasional. Luas baku sawah di provinsi ini mencapai lebih dari 1,2 juta hektare. Namun pada 2024, produksi Gabah Kering Giling (GKG) turun 4,53 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan menyusutnya luas panen. Meski demikian, produksi tetap tinggi di bulan April 2025, yang mencatat sekitar 2,14 juta ton GKG.
Erma menyebut, surplus produksi ini justru bisa menjadi bumerang jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret untuk menyerap hasil panen petani. Ia mendorong Bulog agar bergerak cepat dan membeli gabah dengan harga pantas.
“Kami ingin petani di Jawa Timur mendapatkan hasil yang layak dan berimbas pada stabilitasi pangan,” pungkas Erma. [asg/beq]






