Jember (beritajatim.com) – Penghematan menjadi kata kunci bagi rumah tangga di Indonesia di tengah ancaman krisis ekonomi dan energi. Namun hemat dalam konteks ini lebih menekankan pada kecerdasan penggunaan bahan bakar minyak dan bahan bakar gas yang lebih efisien.
“Beban energi terbesar rumah tangga Indonesia bukan di dapur atau listrik tapi di mobilitas atau transportasi. Jika dihitung per rumah tangga, kisaran kebutuhan BBM adalah 3 – 12 liter per hari,” kata Ciplis Gema Qoriah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (31/3/2026).
Rata rata kebutuhan BBM setiap orang per hari di Indonesia pada 2025, menurut Badan Pusat Statistik dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sekitar 1,3 – 1,6 liter. “Jika dikonversi ke rupiah jenis pertalite sekitar Rp 13.000 – 16.000,” kata Ciplis.
Ciplis memperkirakan, dengan kebutuhan 20 – 50 liter pertalite untuk mobil dan motor maka dibutuhkan biaya Rp 200 ribu – 500 ribu. Dengan lebutuhan listrik 200 – 300 kWh, dengan harga rata rata Rp 1.444 per kWh, butuh biaya Rp 290.000 hingga Rp 430.000.
Sementara untuk bahan bakar gas, dengan kebutuhan 3 – 6 tabung volume tiga kilogram, diperkirakan akan membutuhkan biaya Rp 60.000 – 120.000.
“Dari hitungan tersebut, BBM merupakan pengeluaran terbesar karena mobilitas. Listrik pengeluarannya paling stabil, karena perangkat elektronik yang tidak sering bertambah. BBG paling kecil biayanya, namun termasuk kebutuhan penting untuk memasak dan mengolah makanan,” kata Ciplis.
Ciplis mengatakan, asumsi ini belum memasukkan golongan ekonomi dan belum memasukkan harga BBM dan BBG subsidi maupun non subsidi.
Ciplis menyarankan empat kiat berhemat. “Pertama, penggunaan listrik di rumah sebaiknya sesuai dengan kegunaan dan memadamkan jika tidak digunakan. Kedua, memilih alat elektronik yang menyediakan daya rendah,” katanya.
Ciplis juga menyarankan penggunaan gas untuk memasak dengan cara efisien, baik secara waktu, tenaga dan biaya. “Kalkulasi dengan cermat kebutuhan BBM motor ataupun mobil secara mingguan atau bulanan, dengan tingkat kemanfaatannya,” katanya,
“Pertimbangkan jarak terdekat dan tingkat harga dalam memenuhi kebutuhan pokok, memilih akses jalan yang lebih mudah dilalui kendaraan untuk kebutuhan akses keseharian baik itu pendidikan, kesehatan dan yang lainnya, serta mengurangi aktivitas yang sekiranya kemanfataatannya minim seperti konvoi maupun touring,” kata Ciplis.
Dengan demikian, energi dari BBM dan BBG teralokasikan secara cermat dan efisien tanpa mengurangi produktivitas. “Ke depan inovasi penyediaan sumber energi di level rumah tangga bisa dimodifikasi dengan pemanfaatan energi surya atau solar panel yang dilengakapi dengan baterei dan genset cadangan,” kata Ciplis.
Tentu saja, menurut Ciplis, penerapan ini perlu perhatian afirmatif dari pemerintah dalam bentuk subsidi pengadaan dan instalasi secara berlapis “Sesuai dengan daya beli dan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Selain itu, pemerintah diminta bekerjasama dengan swasta dan industri untuk membuka lapangan kerja yag berkualitas. “Ini untuk meningkatkan daya beli masyarakat sebagai bentuk penyesuaian konversi energi dan besaran subsidi secara bertahap dengan tetap mengutamakan keberlanjutan tingkat harapan hidup,” kata Ciplis. [wir/beq]






