Surabaya (beritajatim.com)– Maraknya kasus bunuh diri dan tindakan menyakiti diri sendiri di kalangan remaja menjadi perhatian serius dunia pendidikan dan akademisi.
Kondisi tersebut mendorong Tim Dosen Informasi dan Humas Universitas Diponegoro turun langsung memberikan edukasi kepada pelajar di SMA Negeri 9 Surabaya.
“Saat ini penting untuk melakukan penyaringan berbagai jenis konten media sosial yang dapat mempengaruhi kondisi psikis para remaja dan anak muda,” kata Mohammed Aden Suryana dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/5/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kampanye pencegahan suicidal thoughts, suicidal attempt, dan self-harm melalui pendekatan media sosial. Sosialisasi diberikan kepada siswa kelas X hingga XII dengan melibatkan tim dosen dari Universitas Diponegoro.
“Media sosial saat ini memiliki pengaruh besar terhadap kondisi mental remaja, sehingga perlu ada pendekatan komunikasi yang lebih ramah dan positif,” ujarnya.
Tim dosen yang dipimpin Mohammed Aden Suryana bersama Yayuk Endang Irawati memberikan materi mengenai pentingnya pencegahan tindakan self harm dan bunuh diri bagi remaja. Kegiatan tersebut juga dihadiri langsung Kepala SMA Negeri 9 Surabaya, Tri Kurniawati.
“Perlu strategi penanganan khusus terkait penyebarluasan konten media sosial agar lebih aman bagi remaja dan anak muda,” ucap Aden.
Menurut dia, persoalan suicidal thoughts dan self-harm harus menjadi perhatian bersama. Orang tua, sekolah, lingkungan pertemanan, hingga institusi pendidikan disebut memiliki peran penting dalam mencegah munculnya tindakan tersebut.
“Pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri. Orang tua, sekolah, teman, dan lingkungan harus ikut aktif memberikan perhatian kepada remaja,” katanya.
Selain memberikan edukasi kepada siswa, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Program itu dilakukan sebagai bentuk kontribusi akademisi dalam menjawab persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus bentuk kepedulian terhadap kondisi remaja saat ini,” ujar dia.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai memberikan pemahaman penting bagi siswa terkait kesehatan mental dan penggunaan media sosial secara bijak. Edukasi seperti ini diharapkan mampu membantu pelajar lebih terbuka dalam menghadapi tekanan sosial dan emosional.
“Harapannya siswa bisa lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan mental dan tidak mudah terpengaruh konten negatif di media sosial,” pungkasnya.[asg/ted]






