Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Mochammad Wachid sedang melakukan penelitian terkait limbah tahu yang diubah menjadi energi listrik. Saat ini, dirinya sedang menyelesaikan studi doktoral University of Miyazaki, Jepang.
Wachid diterima studi di Universitas Miyazaki berkat penelitiannya tentang limbah tahu yang bisa dikonversi menjadi energi listrik. Kisah tersebut berawal dari pertemuannya dengan salah satu dosen di universitas Miyazaki dalam sebuah konferensi.
Diketahui, sistem di Jepang memang mendorong dosen untuk mengenal dan mengetahui calon mahasiswanya sehingga mereka bisa langsung menyeleksi calon mahasiswa sendiri.
“Di sini, mereka yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral maupun magister harus kenal dan tahu dosennya. Tidak harus kenal langsung, bisa juga lewat konferensi,” tutur Wachid yang dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (4/11).
Dalam pertemuan itu, dosen yang bertemu dengan Wachid mengaku tertarik dengan penelitian yang tengah dia lakukan. Penelitian Wachid sendiri membahas tentang pemanfaatan limbah tahu untuk diubah menjadi listrik dengan microbial fuel cell. Metode fermentasi dari pengolahan limbah tahu ini yang akan menghasilkan listrik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Selain itu, Wachid juga menjelaskan bahwa ada perbedaan pembuatan tahu di Indonesia dengan di Jepang. Di Indonesia biasanya memakai asam untuk penggumpalan, sedangkan di Jepang menggunakan garam yang tidak asin.
Untuk saat ini, ia tengah melakukan penelitian dengan dua sampel limbah dari Indonesia dan Jepang dengan metode pengolahan limbah yang menghasilkan energi.
Pada kesempatan tersebut, pria asli Lumajang ini juga berharap para sarjana atau magister di Indonesia tetap bersemangat melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Sebab, ada berbagai ilmu dan pengalaman yang bisa didapatkan.
Menurut Wachid, dirinya mendapatkan banyak ilmu baru ketika belajar di negara orang. Selain itu, dia juga mendapatkan pengalaman berharga saat berada di luar negeri, misalnya seperti budaya baru, bahasa baru, bertemu orang baru dan sebagainya.
Kemudian, dia juga berpesan kepada para mahasiswa yang belajar di luar negeri untuk kembali ke Indonesia dan membangun bangsa dengan berbagai cara yang positif. (nap)






