Jember (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Soni Sisbudi Harsono, berhasil memanfaatkan limbah kulit kopi menjadi bahan bakar alternatif terbarukan. Energi terbarukan itu dibuat dalam bentuk biopellet.
“Setiap satu kilogram biopellet bisa untuk memasak nasi satu kilogram, atau memasak air dan masak lauk pauk selama delapan jam. Dengan memakai biopellet, ini akan ada penghematan 25 persen dibanding menggunakan kompor dengan bahan bakar Elpiji,” kata Soni, sebagaimana dilansir Humas Unej, Kamis (29/9/2022).
Doktor teknik pertanian lulusan Humboldt University Berlin Jerman ini mengatakan, pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi biopellet terhitung mudah dan murah. “Untuk menghasilkan satu kilogram biopellet hanya memerlukan biaya produksi Rp 2.500 saja,” kata Soni.
Mengapa kulit kopi? Soni menjelaskan, proses pengolahan kopi dari biji menjadi bubuk siap saji menyisakan limbah kulit sebanyak 39 persen dari total produksi. Selama ini, kulit kopi hanya dimanfaatkan menjadi pupuk oleh petani.
Padahal pengolahan kulit kopi menjadi pupuk perlu waktu paling tidak tiga sampai empat bulan. Karena perlu tahapan dekomposisi atau pembusukan.
“Kulit kopi itu bersifat asam, sehingga dalam jumlah banyak tidak bagus bagi kondisi tanah dan air. Biasanya petani menumpuk begitu saja limbah kulit kopi di pojokan kebun atau di tepi aliran sungai. Jadi bayangkan jika limbah kulit kopi dalam jumlah banyak berada di satu lokasi dalam jangka waktu lama, akan mengganggu ekosistem di wilayah tersebut,” kata Soni.
Apalagi limbah itu bisa memunculkan polusi bau busuk yang mengganggu warga dan kesehatan.
Cara membuat biopellet mudah. “Kulit kopi dijemur hingga kadar airnya berkurang hanya menjadi 12 persen saja. Kulit kopi yang sudah kering itu kemudian ditumbuk dan dihaluskan hingga mirip seperti tepung,” kata Soni.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Jember”]
“Berikutnya, siapkan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dengan air secukupnya untuk dibuat sebagai lem kanji. Aduk bahan-bahan tadi hingga rata. Komposisi yang ideal adalah tepung kulit kopi 90 persen ditambah 10 persen lem kanji,” kata Soni.
“Jika bahan sudah siap, masukkan ke alat pencetak biopellet hingga menghasilkan bahan bakar briket berbentuk silinder kecil. Biopellet ini perlu dijemur di ruang terbuka dengan memanfaatkan panas matahari selama kurang lebih dua hari hingga benar-benar kering. Jika sudah benar-benar kering, biopellet siap digunakan,” kata Soni.
Soni mengatakan penggunaan biopellet mudah, seperti menggunakan arang sebagai bahan bakar. “Keuntungan lainnya, biopellet mudah disimpan dan tahan lama selama penyimpanannya sesuai aturan,” katanya.
Menurut Soni, sebenarnya biopellet bisa dibuat dengan menggunakan limbah organik lainnya, seperti daun dan batang tanaman lainnya yang banyak di perdesaan. “Potensi biopellet sebagai bahan bakar alternatif ini terbuka lebar mengingat bahannya berlimpah di desa,” katanya.
Soni berharap bisa membantu mewujudkan desa mandiri energi dan membantu kesejahteraan masyarakat desa. Saat ini tim biopellet FTP Universitas Jember tengah menyosialisasikan program ini di Dusun Kluncing, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin Kabupaten Bondowoso.
Soni juga menyiapkan kompor untuk memasak yang biaya produksinya hanya Rp175 ribu. Kompor yang didesain Laboratorium Rekayasa Alat Mesin Pertanian FTP Universitas Jember ini cocok bagi usaha mikro dan kecil seperti pedagang kaki lima, warung, dan industri makanan rumahan.
Soni menegaskan, kompor bikinannya mudah dipakai dan tidak menimbulkan asap yang berlebihan. Saat ini dengan dibantu tiga mahasiswa, ia terus berusaha menyempurnakan kompor biomassa agar nantinya bisa disebarluaskan hingga membuka potensi usaha pembuatan kompor biomassa. [wir/beq]






