Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Iis Noventi meraih sertifikat paten atas inovasi Jatu Hydroterapi Herbal, terapi komplementer untuk membantu mengurangi nyeri dan kebas pada penderita diabetes. Sertifikat paten itu diterbitkan pada 2025, setelah didaftarkan sejak 2023.
Jatu Hydroterapi Herbal merupakan komposisi bahan alami yang digunakan melalui metode perendaman kaki dengan air es. Bahan yang digunakan antara lain lombok merah, jinten hitam, kunyit, delingu, jahe, kayu manis, cuka apel, dan garam laut.
Iis menjelaskan inovasi tersebut berangkat dari keluhan pasien diabetes yang kerap mengalami nyeri neuropati dan rasa tidak nyaman saat beraktivitas.
“Penderita diabetes itu sering merasa tidak nyaman karena nyeri neuropati. Dari situ saya ingin membantu mencarikan solusi agar mereka bisa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari,” kata Iis, Jumat (16/1/2026).
Pengembangan terapi herbal ini didukung oleh program matching fund internal Unusa. Iis menyusun formulasi dengan pendekatan berbasis bukti dan mempertimbangkan aspek keamanan sebagai terapi komplementer.
Dalam proses riset, Iis melakukan eksplorasi bahan ke sejumlah daerah, mengikuti pelatihan rempah di Agradaya Yogyakarta, serta berdiskusi dengan pakar dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. “Semua proses itu dilakukan supaya racikan yang dihasilkan benar-benar tepat,” ujarnya.
Uji coba lapangan dilakukan bersama Puskesmas Sawahan dengan melibatkan 60 penderita diabetes yang dibagi dalam tiga kelompok perlakuan. Kelompok pertama hanya menjalani perendaman air dingin, kelompok kedua menggunakan Jatu Hydroterapi Herbal, dan kelompok ketiga mengombinasikan terapi herbal dengan senam kaki.
Hasil evaluasi menunjukkan penurunan nyeri paling signifikan terjadi pada kelompok yang mengombinasikan terapi herbal dengan senam kaki. Penurunan nyeri lebih kecil terjadi pada kelompok terapi herbal tanpa senam kaki, sementara kelompok air dingin menunjukkan hasil paling rendah.
“Kita melakukan evaluasi berkala. Responden menyampaikan nyeri dan rasa kebasnya berkurang setelah berendam dengan Jatu Hydroterapi Herbal, meski hasilnya lebih optimal jika dikombinasikan dengan senam kaki dan dilakukan rutin,” kata Iis.
Saat ini, Jatu Hydroterapi Herbal masih berbentuk simplisia atau bahan kering. Ke depan, Iis menargetkan pengembangan ke tahap ekstraksi dan hilirisasi produk melalui kerja sama riset lanjutan. “Rencananya produk ini bisa difarmasikan dan didaftarkan ke BPOM agar standarnya jelas,” ujarnya. [ipl]






