Gresik (beritajatim.com) – Kendati pemilihan serentak masih di tahun 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gresik bersinergi dengan media untuk mendorong partisipasi pemilih. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah pemberitaan hoaks yang rawan terjadi saat tahapan pemilu.
KPU Gresik mencatat, dalam dua edisi pemilihan sebelumnya marak terjadi hoaks yang merugikan banyak pihak. Misalnya, pada pemilu 2019 maupun pilkada 2020. “Saat itu banyak dikomsumsi dan menjadi berbincang di seluruh lapisan masyarakat. Hingga berujung perdebatan yang tidak produktif,” ujar Ketua KPU Gresik Akhmad Roni, Rabu (16/11/2022).
Kendati demikian, lanjut Roni, kesadaran masyarakat dalam memilah informasi semakin meningkat. Khususnya, memilih media yang kredibel sebagai sumber rujukan. “Media wajib menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, sekaligus menghadirkan informasi yang benar dan terkonfirmasi,” paparnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kpu-gresik”]
Semangat itu, lanjut dia, perlu ditingkatkan dalam menyambut pesta demokrasi 2024 Pihaknya sangat terbuka berbagai informasi, saran dan kritik. Bahkan turut mengedukasi masyarakat. “Sekarang masyarakat sudah cerdas. Sehingga bisa membedakan berita yang benar maupun yang hoaks,” ungkapnya.
Sementara itu, Komisioner Divisi SDM dan Parmas KPU Kabupaten Gresik Makmun mengatakan, sesuai instruksi KPU RI memang harus ada hubungan yang baik dengan semua pihak termasuk dengan media massa. “Kami selalu menyempatkan silaturahmi seperti ini sebelum pelaksaan pemilu,” katanya.
Ia menambahkan, berkat dukungan media cukup berpengaruh dalam meningkatkan partisipasi pemilih di Kabupaten Gresik. “Pada Pemilu 2019 dan 2020 mencapai prosentase hingga 80 persen. Ini yang terus kami jaga sampai pemilu 2024. Salah satunya melalui bersinergi dengan media,” imbuhnya. [dny/suf]






