Malang (beritajatim.com) – Manajemen Arema FC melalui Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi, Tatang Dwi Arifianto, menyampaikan maaf atas kegaduhan rencana Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul sebagai markas mereka selama putaran kedua Liga 1 musim ini.
Tatang mengaku memahami kekecewaan sejumlah pihak imbas Tragedi Kanjuruhan yang membuat 135 nyawa meninggal dunia dan 600 lebih mengalami luka-luka. Termasuk penolakan penggunaan SSA oleh tim Liga 3 PS Hizbul Wathan (PS HW) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
“Kami ikhlas menerima segala kekecewaan dari banyak pihak dikarenakan dampak dari musibah kanjuruhan dan kami memohon maaf, namun semua tidak ada niatan apalagi kesengajaan. Kami patuh menjalankan konsekuensi sanksi yang diberikan federasi. Kami juga menghormati proses hukum yang berjalan,” kata Tatang, Rabu, 4 Januari 2022.
Arema FC sebelumnya berencana menjadikan SSA sebagai markas mereka. Sebab, sesuai sanksi PSSI Arema FC disanksi dilarang bermain tanpa penonton serta harus menjadi musafir dengan jarak 250 kilometer dari Stadion Kanjuruhan, Malang.
“Kami memohon maaf tidak memiliki kewenangan terkait penentuan bergulir atau tidaknya strata kompetisi. Kami kini terus instropeksi dan berbenah agar lebih baik. Kami optimis pemerintah dan federasi serta stake holder yang lain terus berbenah dan berusaha keras mengembalikan situasi dan kondisi sepakbola indonesia kembali normal dan berprestasi,” imbuh Tatang.
Sebelumnya, Manajer PS HW UMY, Filosa Gita Sukmono menjelaskan alasan penolakan ini. Tim PS HW sepakat menaruh rasa empati pada seluruh korban dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Di sisi lain, imbas dari Tragedi Kanjuruhan Liga 3 di seluruh provinsi di Indonesia batal digelar termasuk DIY.
“Paling mendasar adalah empati. Kami berempati pada korban, di saat yang bersamaan kami telah mempersiapkan tim untuk berlaga di Liga 3 DIY juga,” kata Filosa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-fc”]
“Di tengah kondisi yang penuh duka, tiba-tiba ada klub Liga 1 yang ingin menggunakan Stadion Sultan Agung. Tentu ini adalah hal yang nirempati. Bagi kami, di titik empati inilah yang perlu dipahami bersama,” imbuh Filosa.
PS HW telah mempersiapkan tim dengan sebaik mungkin untuk mengarungi kompetisi Liga 3 regional DIY. PS HW merasa pembinaan dan persiapan yang mereka lakukan sia-sia. PS HW pun ikut menyuarakan usut tuntas untuk Tragedi Kanjuruhan.
“Pengusutan tuntas sesuai hasil temuan tim gabungan independen pencari fakta (TGIPF) agar sepakbola Indonesia kembali bermartabat,” ujar Filosa. [luc/but]






