Mojokerto (beritajatim.com) – Meski kondisi tanah di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto tergolong kering, siapa sangka tanaman daun bawang bisa tumbuh subur. Di Desa Gunungsari, sejumlah warga menjadi petani daun bawang yang mampu bersaing dengan petani daun bawang di daerah dingin.
Kualitas daun bawang dari Desa Gunungsari dibanding ditanam di daerah dingin, kelebihannya tahan lama karena ditanam di daerah panas. Sehingga daya tahan daun bawang dari Desa Gunungsari bisa sampai tiga hari pasca dipanen dan memungkinkan dikirim ke daerah jauh.
Salah satu petani daun bawang, Sarman (52). Saat ini, ia menanam daun bawang di seperempat hektar sawah miliknya yang berbatasan langsung dengan hutan kayu putih milik Perhutani.
“Harga bibit sekarang masih mahal, Rp20 ribu per kg. Untuk seperempat hektar, saya membutuhkan sekitar 1 kwintal bibit daun bawang,” ungkapnya, Jumat (12/7/2024).
Pria yang juga Kepala Urusan (Kaur) Umum dan Perencanaan Desa Gunungsari ini, untuk proses penanaman cukup simpel. Tanah yang sudah dibajak bisa langsung ditanami bibit bawang daun.
Menurutnya, usia bibit bawang daun semakin tua, semakin bagus karena meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil.
“Perawatannya juga cukup ringan. Tidak membutuhkan obat-obatan yang serius tapi yang paling utama, air. Kalau kurang air, pertumbuhannya lambat. Untuk pengairan, Alhamdulilah tidak ada kendala. Ada sumur bor, rata-rata di Gunungsari itu debit airnya besar. Melihat cuaca untuk perawatannya,” katanya.
Seperti saat ini, menurutnya, perawatannya tidak membutuhkan banyak air. Namun jika tanam di bulan Oktober-November, saat cuaca kemarau maka dibutuhkan penyiraman lebih intensif. Jika cuaca seperti saat ini, proses penyiraman hanya dilakukan satu kali dalam seminggu.
“Untuk perawatan memang ada perbedaan, kalau musim hujan justru lebih sulit. Kendala air embun pagi hari dan penyakit banyak, seperti diserang hama ular. Kalau seperti ini, masih lebih mudah. Kalau musim kemarau, cukup disiram dberi obat satu, dua kali, rata-rata tanaman sudah bagus,” jelasnya.
Sistem tanam daun bawang, jelasnya, satu kali proses taman bisa dipanen sampai tiga kali. Namun biasa yang ia lakukan, pertama kali panen hasilnya tidak dijual namum digunakan sebagai bibit untuk ditanam kembali. Di musim panen kedua dan ketiga baru hasil panen dijual ke tengkulak.
Tanaman daun bawang, usia tanam sampai bisa panen antara 40 hari sampai 50 hari. Untuk harga karena biasanya panen raya sehingga banyak petani daun bawang di sejumlah daerah juga panen, harga dipastikan turun. Saat ini, hanga daun bawang Rp10 ribu sampai Rp15 per kilogram.
“Untuk 1/4 hektar, bisa menghasilkan 1 ton daun bawang tapi saat musim hujan hanya menghasil 1/2 ton daun bawang. Untuk pemasaran, sudah ada tengkulak yang datang. Istilahnya nebas jadi tanpa dihitung per kilogramnya, biasanya oleh tungkulak dipasarkan di daerah Lamongan. Karena memang dekat ke Lamongan dari sini,” urainya.
Petani daun bawang di Desa Gunungsari sudah ada tengkulak yang datang untuk mengambil hasil panen. Karena Desa Gunungsari berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan di sisi utara sehingga hasil panen daun bawang banyak dibawa tengkulak ke pasar yang ada di Lamongan.
“Kalau di sini hanya sebagian warga yang menanam daun bawang, padahal di sekitar tahun 2010 banyak petani Desa Gunungsari menanam daun bawang. Saat itu, daun bawang menjadi tanaman populer di Desa Gunungsari dengan harga Rp5 ribu sampai Rp8.000 per kg, harga murah karena panen melimpah,” ujarnya.
Tapi saat ini, warga Desa Gunungsari banyak beralih tanaman sehingga harga jual daun bawang cukup tinggi karena tidak banyak yang tanam. Setelah tahun 2010, tanaman daun bawang milik para petani banyak diserang hama ulat menyebabkan tanaman rusak sehingga banyak warga beralih dan tidak lagi menjadi petani daun bawang.
“Untuk daun bawang dari Desa Gunungsari dibanding ditanam di daerah dingin, kelebihannya tahan panas. Kalau kita stok satu hari, dua hari, tiga hari masih kuat. Masih kelihatan segar karena cuacanya panas. Di simpan di suhu ruang tapi kalau dari daerah dingin, satu hari panen, besok pagi sudah busuk,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Gunungsari, Susanto mengatakan, jika Desa Gunungsari merupakan daerah pertanian yang terbatas langsung dengan wilayah Perhutani sehingga menjadikan mayoritas masyarakat Desa Gunungsari bermata pencaharian sebagai petani.
“Di Desa Gunungsari berbagai macam jenis tanaman yang ditanam warga karena mayoritas warga adalah petani, mulai dari sayuran, bumbu dapur hingga tanaman pertanian lainnya. Seperti daun bawang, kacang, jagung, padi, tebu sampai rumput gajah untuk makanan ternak,” tambahnya. [tin/beq]







