Sebelum menjabat Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Timur, masa muda Abul Chair dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat tugas di luar Jawa, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Utara.
Chair sempat kaget dengan perbedaan budaya dan juga beratnya kondisi lapangan di Papua yang menjadi lokasi tugasnya yang pertama saat menjadi pegawai BPKP. “Namun lama kelamaan saya menikmati pekerjaan,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, Kamis (25/5/2023).
Keasyikan Chair bekerja terinterupsi oleh panggilan orangtua. Ia diminta pulang ke Sumenep. “Orangtua khawatir saya dapat jodoh di sana. Akhirnya disuruh pulang untuk dinikahkan dengan gadis Madura tetangga desa. Mungkin agar pas mudik gak perlu jauh-jauh, cukup naik becak saja,” katanya tertawa.
Chair bernostalgia saat menjadi narasumber kuliah umum untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia memamerkan kartu tanda mahasiswa FE Unej angkatan 1988 kepada para mahasiswa saat berpidato di di gedung auditorium Unej, Rabu (24/5/2023).
“Jangan hanya jadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang terus mager alias malas bergerak. Silakan juga jadi mahasiswa kura-kura atau kuliah rapat dengan mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan agar mendapatkan banyak softskill. Sesekali boleh lah jadi mahasiswa kupi, alias kuliah happy,” kata pria kelahiran 1969 ini.
Chair menegaskan, pengalaman berorganisasi semasa kuliah membuatnya cepat beradaptasi dan belajar di tempat kerja. “Kuncinya adaptif dan mau belajar. Sebab mereka yang mampu beradaptasi dan terus belajar yang akan sukses,” katanya.
Menjadi seorang pegawai BPKP tak mudah. Tugas BPKP adalah menjadi mitra sesama organisasi atau lembaga pemerintah. Komunikasi yang baik menjadi kunci. Kemampuan berkomunikasi yang baik ini diperolehnya semasa kuliah. Chair mendorong mahasiswa Universitas Jember untuk mengembangkan softskill selama di kampus. [wir]






