Gresik (beritajatim.com)– Musim tanam Oktober-Maret telah tiba. Dirut Petrokimia Gresik (PG) Daconi Khotob punya cara tersendiri memantau kualitas pupuk ke sejumlah petani. Orang nomor satu di perusahaan BUMN tersebut blusukan ke daerah Madiun dan Jombang.
Di dua daerah itu, Daconi melihat dari dekat budidaya pertanian dengan Teknologi Petro Spring (Madiun), dan Mitra Petroganik di Jombang.
“Tidak hanya kualitas pupuk saja yang menjadi perhatian. Teknologi pertanian modern saat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan. Sekaligus menjadi daya tarik bagi generasi muda, mengingat problem regenerasi petani merupakan tantangan bersama,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Dengan cara itu lanjut dia, generasi muda akan dengan teknologi, sehingga menarik minat untuk aktif memajukan pertanian di masa mendatang.
“Di Madiun kami menerapkan teknologi Petro Spring yang ada di dua titik budidaya, masing-masing di Desa Tiron dan Banjarsari, Kabupaten Madiun, dengan total luas lahan 10 hektare,” ungkapnya.
Teknologi tersebut pemupukannya menggunakan drone. Sehingga, mampu menghemat tenaga, waktu, hingga biaya. Sebelumnya cara manual 10 hektar membutuhkan tenaga buruh tani sebanyak 12 orang, dengan waktu pemupukan 4 hari dan total ongkos Rp7 juta, sementara penggunaan drone pemupukan di lahan yang sama hanya membutuhkan tenaga dua orang, waktu 8 jam, dan biaya Rp6 juta.
“Kami berharap penerapan teknologi Petro Spring dapat terus diduplikasi dan menjadi contoh bagi petani di wilayah lain,” imbuh Daconi.
Sementara di Jombang, Daconi mengunjungi mitra Petroganik. Dirinya memastikan kualitas pupuk organik yang diproduksi mitra sesuai dengan standar, sehingga pengaplikasiannya mampu memberikan dampak positif bagi pertanian berkelanjutan.
“Petroganik menjadi salah satu pupuk bersubsidi. Dengan kualitas terjaga, pupuk organik ini mampu memberikan dampak positif bagi kesuburan tanah untuk jangka yang panjang,” paparnya. (dny/ted)






