Pamekasan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan terus memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular (PTM) melalui berbagai program promotif dan preventif. Langkah tersebut dilakukan menyusul masih tingginya angka kasus hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, hingga kanker di wilayah setempat.
Dokter Umum UPT Puskesmas Pasean, dr Sistri Ajeng JM, menyampaikan bahwa faktor risiko PTM terbagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, dan keturunan. Sementara itu, faktor yang dapat dikendalikan berkaitan dengan pola hidup sehari-hari.
“Faktor yang paling besar justru berasal dari pola hidup. Konsumsi makanan tinggi garam, lemak, makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik, merokok, hingga obesitas menjadi pemicu utama munculnya hipertensi, diabetes, stroke, penyakit jantung, penyakit ginjal, bahkan kanker,” kata dr Sistri Ajeng, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan, selama ini masih banyak masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin karena takut mengetahui kondisi kesehatan. Padahal deteksi dini merupakan langkah penting untuk menemukan penyakit sejak awal, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Sebagai upaya menekan angka PTM, Dinkes Pamekasan terus mengoptimalkan berbagai program, di antaranya Cek Kesehatan Gratis (CKG), skrining kesehatan secara berkala, edukasi kepada masyarakat, Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), promosi kesehatan, hingga pemanfaatan media digital sebagai sarana penyebaran informasi.
Sebelumnya, Koordinator Program Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA Dinkes Pamekasan, Roviki menjabarkan pelayanan bagi penderita PTM tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga mencakup pendampingan, edukasi, serta pemantauan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
“Selama ini kami juga mendekatkan pelayanan melalui puskesmas, pustu, dan bidan desa agar masyarakat semakin mudah mendapatkan pengobatan. Harapannya tidak ada lagi alasan enggan berobat karena jarak pelayanan,” jelas Roviki.
Berdasar data Dinkes Pamekasan, periode Januari hingga Juni 2026 mencatat sekitar 13 ribu kasus hipertensi dan 5 ribu kasus diabetes melitus. Sementara itu, sepanjang 2025 tercatat sekitar 3 ribu kasus penyakit jantung, 1.400 kasus stroke, 100 kasus kanker payudara, serta 27 kasus kanker serviks.
Melihat tingginya angka tersebut, Dinkes Pamekasan mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghindari kebiasaan merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sedikitnya satu kali dalam setahun.
“Upaya ini tentunya menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mencegah peningkatan kasus penyakit tidak menular di Pamekasan. Dan memang PTM ini merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain, namun membutuhkan penanganan jangka panjang sehingga menguras biaya, tenaga, dan waktu bagi pasien maupun keluarga pasien,” pungkasnya. [pin/but]






