Lumajang (beritajatim.com)- Kebisingan suara sound horeg ikut dapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Dinkes P2KB Lumajang bahkan juga mengingatkan dampak suara kebisingan ekstrem dari sound horeg cukup berbahaya.
Terlebih, sebelumnya di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang baru saja terjadi insiden meninggalnya seorang ibu rumah tangga bernama Anik Mutmainah (38) saat menonton pertunjukan sound horeg.
Kepala Dinkes P2KB Lumajang dr Rosyidah menyampaikan, suara dengan intensitas sangat tinggi seperti sound horeg dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Efek paparan suara ekstrem yang dikeluarkan sound horeg bahkan diakui tidak hanya sebatas pada pendengaran, melainkan juga dapat memengaruhi organ vital pada tubuh seseorang.
Sehingga, potensi efek kebisingan ekstrem bagi tubuh tidak bisa diabaikan, terutama jika durasi paparan berlangsung lama di ruang terbuka.
“Ini kalau paparannya sebentar (suara ekstrem sound horeg, Red), efeknya mungkin hanya sementara. Tapi kalau pelaksanaan lama, bisa mengakibatkan tuli permanen,” terang dr Rosyidah, Selasa (5/8/2025).
Selain itu, getaran kuat dari kebisingan ekstrem juga disebut bisa berdampak buruk bagi sistem sistem peredaran darah, yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah (arteri, vena, dan kapiler) atau kardiovaskular. Utamanya, pada seseorang yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes.
“Jadi, bagi orang dewasa yang memiliki penyakit penyerta ini, bisa memicu gangguan irama jantung, henti jantung mendadak, bahkan pecah pembuluh darah yang fatal. Ini usia anak dan orang dewasa berbeda daya tahannya terhadap kebisingan seperti ini,” tambahnya.
Meski begitu, penyebab pasti kematian Anik Mutmainah saat menonton pertunjukan sound horeg belum bisa disimpulkan secara medis. Sebab, masih dibutuhkan pemeriksaan secara forensik. (has/ted)






