Pasuruan (beritajatim.com) – Memasuki musim hujan, potensi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Pasuruan turut meningkat. Untuk mengantisipasinya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam memberantas keberadaan sarang nyamuk di lingkungan sekitarnya, tapi bukan dengan cara fogging.
Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr Shierly Marlena tidak menganjurkan fogging sebagai solusi utama untuk memberantas nyamuk demam berdarah. Menurut dia, kandungan zat kimia yang ada dalam asap fogging bisa berbahaya jika dihirup secara berlebihan.
“Fogging bukanlah solusi pemberantasan DBD karena berbahaya bagi lingkungan. Bahkan juga bisa membahayakan manusia bila tak sesuai indikasi,” ujar Shierly.
[berita-terkait number=”5″ tag=”demam-berdarah”]
Shierly lebih menyarakan agar masyarakat melalukan pencegahan DBD dengan cara konvensional. Yaitu dengan memberantas sarang nyamuk dengan membiasakan perilaku 3M, mulai dari menguras air, menutup penampungan air, dan mengubur sampah.
“Untuk memberantas sarang nyamuk ya harus melalui 3M. Kalau perlu ditambah dengan menabur abate di tempat yang sulit dikuras,” ungkapnya.
Dinkes Kota Pasuruan juga telah menyediakan serbuk abate secara gratis. Serbuk abate ini bisa diperoleh di masing-masing kader lingkungan tingkat kelurahan serta di setiap puskesmas tingkat kecamatan.
Sementara itu, berdasarkan data sementara, penyebaran DBD sudah menjangkiti pemukiman warga di Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Lurah Randusari Wahyudi mengonfirmasi terkait adanya laporan warganya yang terkena DBD hingga sempat dirawat di rumah sakit.
“Salah satu warga kami ada yang positif DBD dan sempat dirawat di RS Medika. Syukurlah sudah pulang dan tinggal rawat jalan. Kami langsung minta petugas Puskesmas Karangketug untuk melakukan fogging,” ujarnya. (ada/kun)






