Ponorogo (beritajatim.com) – Upaya membangun pendidikan berkarakter di Ponorogo kini dimulai dari ruang yang paling strategis: para pendidik. Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo bersama Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka menggulirkan pendidikan dan pelatihan (diklat) kepramukaan bagi ratusan guru ASN.
Langkah ini menjadi upaya nyata dalam meneguhkan kembali nilai-nilai moral, disiplin, dan kepemimpinan di dunia pendidikan.
Kegiatan berlangsung selama enam hari, 11–16 Oktober 2025, di Taman Soko Sewu, Kecamatan Sukorejo. Total 616 guru dari berbagai jenjang pendidikan—SD, SMP, hingga SMA sederajat—ikut serta. Dari jumlah tersebut, 530 guru mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dan 86 guru mengikuti Kursus Mahir Lanjutan (KML).
Program ini merupakan tindak lanjut dari Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, yang mewajibkan setiap satuan pendidikan dasar dan menengah mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan.
Kepala Dindik Ponorogo, Nurhadi Hanuri, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi upaya konkret memperkuat pendidikan karakter di sekolah. “Kami ingin memastikan semua guru memiliki karakter terbaik sebelum melayani siswa. Guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan moral anak didik,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).
Menurutnya, kepramukaan adalah sarana efektif untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, dan kebersamaan. Pendidikan karakter, lanjutnya, harus dimulai dari keteladanan guru. “Dengan bekal itu, guru dapat menanamkan nilai-nilai positif yang kelak mencetak generasi muda cerdas, tangguh, dan berakhlak mulia,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, yang juga menjabat Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab), mengapresiasi sinergi antara Dindik dan Kwarcab Pramuka. “Melalui kepramukaan, pendidikan Ponorogo akan makin maju. Kita tidak hanya menyiapkan generasi yang pintar, tapi juga memiliki keterampilan, moral, dan karakter yang baik,” tegas Sugiri.
Bupati yang akrab disapa Kang Giri itu berharap, diklat ini menjadi momentum lahirnya pendidik inspiratif—guru yang tak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menyalakan semangat nasionalisme, gotong royong, dan tanggung jawab sosial di hati peserta didik.
“Pramuka itu bukan hanya tentang baris-berbaris, tapi tentang menumbuhkan cinta tanah air dan membangun mental tangguh bagi generasi penerus Ponorogo,” ujarnya.
Pelatihan kepramukaan ini menjadi bagian dari program berkelanjutan Pemkab Ponorogo dalam memperkuat profil Pelajar Pancasila di setiap sekolah. Melalui guru-guru yang dibekali nilai dasar kepramukaan, diharapkan sistem pendidikan di Ponorogo tidak hanya menghasilkan siswa berprestasi, tetapi juga generasi beretika dan siap memimpin masa depan. (end/kun)






