Ringkasan Berita:
- Dindik Jatim mendorong UPT PTKK terus berinovasi menghadapi kebutuhan industri modern.
- Sebanyak 60 siswa SMK mengikuti pelatihan teknik pemesinan dan otomotif.
- Kepala Dindik Jatim menilai fasilitas UPT PTKK harus lebih unggul dari sekolah.
- Pelatihan melibatkan praktisi industri dan instruktur ITS.
Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur mendorong Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Teknik dan Keterampilan Kerja (UPT PTKK) terus berinovasi agar mampu menjawab tantangan kebutuhan mesin industri modern.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompetensi siswa SMK agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan perkembangan teknologi industri.
Arahan itu disampaikan Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai saat meninjau langsung pelatihan teknik bagi 60 siswa SMK di UPT PTKK.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendalami kompetensi bidang teknik pemesinan dan otomotif.
“Apa yang didapatkan di sekolah bisa dipadukan di tempat PTKK ini,” ujar Aries, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, fasilitas yang dimiliki UPT PTKK harus memiliki keunggulan dibanding fasilitas praktik di sekolah.
Sebab, masih banyak sekolah yang menghadapi keterbatasan alat praktik dan permesinan modern.
Karena itu, keberadaan perangkat industri yang lebih lengkap di UPT PTKK dinilai penting agar siswa memperoleh pengalaman praktik yang berbeda.
“Jangan sampai tempat ini tidak ada bedanya dengan lingkungan sekolah. Harus ada kelebihan dari proses yang mereka alami di UPT PTKK ini,” tegasnya.
Selain fasilitas permesinan, kualitas tenaga pengajar juga menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut.
Aries menilai para siswa memperoleh pengalaman baru karena berhadapan langsung dengan instruktur yang berasal dari kalangan praktisi lapangan.
“Cara mengajar dan cara menyampaikan pasti berbeda. Itu juga bisa menjadi evaluasi bagi kita,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, instruktur Teknik Mesin Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sajidin turut memberikan materi intensif selama enam hari.
Materi pelatihan mencakup pemahaman piranti lunak hingga pengoperasian mesin bubut industri.
“Materi ini untuk pemahaman dasar bagi para peserta pelatihan,” jelas Sajidin.
Menurutnya, kebutuhan teknologi industri akan terus berkembang sehingga proses pembelajaran juga harus mengikuti perkembangan tersebut secara berkelanjutan.
“Kalau kebutuhan industri, keilmuan ini akan terus berkembang dan butuh waktu cukup panjang,” tambahnya.
Salah satu peserta pelatihan, Rendy Septia Ramadhani mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut.
Siswa kelas XI SMKN 1 Kota Madiun itu menilai materi pelatihan memiliki kesinambungan dengan pembelajaran di sekolah.
“Kalau di sekolah memang baru diajarkan dasar-dasarnya saja,” ungkap Rendy.
Melalui praktik langsung di UPT PTKK, para peserta mendapat kesempatan memahami fungsi mesin secara lebih rinci hingga proses eksekusinya.
Setiap peserta juga ditantang menyelesaikan proyek mandiri sebagai bagian dari evaluasi keterampilan praktik.
“Di sini dijelaskan lebih rinci, fungsi-fungsinya, sampai proses eksekusinya,” tuturnya.
Rendy mengaku keterampilan tambahan dari pelatihan tersebut akan menjadi bekal saat menjalani program magang pengendalian kualitas di PT INKA selama enam bulan mendatang. [ipl/beq]






