Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani resmi melantik Amir Hidayat sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) definitif. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di GOR Tawangalun, bersama puluhan pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, dan Pengawas di lingkungan Pemkab Banyuwangi.
Dalam arahannya, Ipuk menegaskan sejumlah persoalan kesehatan yang harus segera ditangani, mulai dari tingginya angka kematian ibu dan bayi, prevalensi stunting, hingga kasus tuberkulosis (TBC) yang masih tinggi di Banyuwangi.
“Saya ucapkan selamat dan berharap Pak Amir dapat bekerja lebih keras dan bertanggung jawab dalam menekan berbagai persoalan tersebut,” kata Ipuk.
Ipuk meminta Dinas Kesehatan terus memaksimalkan gerakan jemput bola agar tidak ada warga Banyuwangi yang terhambat mendapatkan layanan kesehatan karena faktor ekonomi atau jarak. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan terhadap puskesmas agar tenaga kesehatan aktif mencari dan menangani warga sakit, terutama masyarakat kurang mampu di pelosok daerah.
“Program Mal Orang Sehat dan layanan kesehatan gratis harus kembali dimasifkan. Koordinasi antara puskesmas, camat, kepala desa, dan forkopimka juga harus diperkuat,” tambah Ipuk.
Menurutnya, Pemkab Banyuwangi memiliki unit reaksi cepat yang tidak hanya bergerak di bidang kemiskinan, tetapi juga di bidang kesehatan. “Saya yakin Pak Amir mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Banyuwangi,” tegas Ipuk.
Menanggapi arahan tersebut, Amir Hidayat menyatakan siap memperkuat program yang telah berjalan untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi, stunting, dan TBC. Ia menegaskan bahwa Dinas Kesehatan akan memperluas inovasi layanan berbasis lapangan dan memperkuat puskesmas di wilayah sulit dijangkau.
“Untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, kami kembangkan inovasi Permata Hati (Persalinan Enam Tangan, Aman, Sehat, Terlindungi). Artinya, setiap persalinan minimal ditangani tiga orang tenaga medis seperti dokter, bidan, atau perawat. Semua puskesmas juga siaga 24 jam,” jelas Amir.
Ia menambahkan, sebanyak 24 lokasi prioritas di daerah terpencil akan diperkuat dengan tenaga dan sarana tambahan agar mendapat layanan kesehatan yang setara dengan wilayah kota.
Terkait penanganan TBC, Amir menyebut pihaknya terus memperkuat deteksi dan pengobatan kasus melalui terapi pengamatan langsung (Directly Observed Therapy/DOT). “Saat ini ada sekitar 2 ribu orang positif TB dan 20 ribu suspek. Kami juga mendapat bantuan X-ray portable dari UNDP agar deteksi dini lebih cepat dan akurat,” ujarnya.
“Kami akan terus menggencarkan jemput bola dan memastikan pengobatan bagi warga hingga tuntas,” pungkas Amir. [alr/beq]






