Ngawi (beritajatim.com) – Seorang nenek di Ngawi menjadi korban pencurian dari oknum yang mengaku sebagai petugas penyalur bantuan sosial. Dia terpaksa kehilangan perhiasan emas seberat 20 gram.
Nenek yang menjadi korban adalah Darsi (58), warga Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren. Darsi mengungkapkan pencurian itu berawal saat dia sedang di rumah bersama suaminya, Kasirun (63), pada Selasa (18/10/2022).
Sekitar pukul 09.00 WIB, kata Darsi, pelaku datang ke rumahnya mengendarai sepeda motor Yamaha Vixion merah. Pelaku kemudian mengajak Darsi dan Kasirun berbincang di dalam rumah.
Kepada keduanya, pelaku mengaku sebagai petugas dari kecamatan dan hendak menyalurkan bansos. Bantuan berupa uang itu diperuntukkan sebagai tambahan modal untuk warung kelontong kecil yang dibuka Darsi.
Pelaku pun meminta agar Darsi melepas perhiasan miliknya. Agar saat difoto benar-benar terlihat warga kurang mampu.
Darsi pun menurut dan menyimpan perhiasannya di etalase toko miliknya yang agak tersembunyi. Kemudian, usai difoto, dia pun diajak pelaku mengambil bansos di kantor kecamatan.
“Tapi di tengah jalan, saya diturunkan di depan rumah kosong dan saya diminta untuk menunggu karena katanya mau menjemput peserta yang lain. Akhirnya, saya tunggu terus dan tidak datang sampai sekitar setengah jam. Sampai akhirnya saya pulang bersama saudara yang pulang dari pasar,” kata Darsi saat ditemui di rumahnya, Rabu (19/10/2022).
Sesampai rumah, suaminya, Kasirun mengatakan si petugas kembali lagi ke rumah. Pada Kasirun, pelaku meminta dia mengambil air yang ditaruh dalam dua mangkok di dapur belakang.
Kasirun pun menurut dan mulai mengambil air. Di saat Kasirun mengambil air, pelaku mulai mencari perhiasan Darsi yang ditaruh di etalase, kemudian kabur ke barat.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pencurian-ngawi”]
“Saya dengar dari suami saya kalau dia kembali lagi ke sini setelah menurunkan saya di pinggir jalan. Saya terus curiga dan akhirnya memeriksa perhiasan yang saya simpan di etalase ternyata sudah tidak ada. Saya pun melapor ke polisi,” terang buruh tani itu.
Perhiasan yang dicuri berupa kalung 10 gram senilai Rp4 juta, dua cincin 4 gram senilai masing-masing Rp1,1 juta dan Rp1,2 juta, dan satu cincin 2 gram senilai Rp800 ribu.
Darsi tidak mengira jika pelaku adalah orang yang memiliki niat jahat. Dia meminta agar pelaku bisa segera ditemukan.
“Saya sudah bilang ke polisi, orangnya tinggi besar, agak gemuk, saat itu pakai batik dan celana hitam. Bawa tas ransel dan kemudian motornya motor besar warna merah. Orangnya berkumis, kulitnya agak gelap, dan rambutnya agak panjang dikit ,” katanya.
Kapolsek Widodaren, AKP Zainal Arifin membenarkan perihal kejadian tersebut. Pihaknya memang menerima laporan dari warga Banyubiru jika ada maling perhiasan yang berpura-pura menjadi petugas penyalur bansos.
“Memang benar ada laporan ke kami. Saat ini kami masih lakukan pendalaman terkait kejadian ini. Pelaku memang menyasar korban yang merupakan lansia yakni nenek-nenek. Kami masih berusaha menangkap pelaku,” kata Zainal.
Ini merupakan kasus kedua terjadi di Ngawi. Sebelumnya, dua nenek, masing-masing berasal dari Desa Karangbanyu dan Desa Pengkol menjadi korban pencuri yang mengaku sebagai petugas bansos.
Korban tersebut adalah Rukmini (78) yang kehilangan uang Rp1,3 juta dan perhiasan emas seberat 10 gram. Sementara korban lainnya adalah Ngatiyem (60), yang kehilangan uang Rp480 ribu dan gelang emas seberat 13,5 gram. [fiq/beq]






