Surabaya (beritajatim.com) – Usai dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) oleh Biro Kepegawaian Kejaksaan, Kamis (30/12/2021), Ghufron (24) anak penyapu jalan di Surabaya menyurati Presiden Jokowi menuntut transparansi usai dirinya diberi nilai nol dalam tes psikotes dan kesehatan.
Beritajatim.com lantas menemui Ghufrondi sebuah cafe di Gununganyar pada Selasa, (04/01/2022) malam. Ia menjelaskan, usai dinyatakan tidak lulus, ia langsung melakukan tes di Brilian Psikologi serta Laboratorium dan Klinik Pramita.
Hasilnya, ia mendapatkan nilai 116 untuk psikotes dan kesehatannya dinyatakan baik – baik saja walaupun ada minus sedikit pada mata kiri.
Usai mendapatkan hasil tes pembanding yang dilakukan secara mandiri, dirinya lantas melakukan upaya sanggah yang dikirimkan pada tanggal 31 Desember 2021. Sampai saat ini, ia masih menunggu hasil dari upaya sanggah. Walaupun, berdasarkan informasi yang ia dapat ketika dinyatakan TMS maka tidak bisa melakukan upaya sanggah.
“Saya sempat melakukan upaya sanggah tanggal 31 Desember 2021. Pengumumannya antara tanggal 4 dan 6 Januari ini. Saya lakukan karena merasa baik – baik saja,” ujarnya.
Guna mendapatkan transparansi, selain melakukan upaya sanggah, ia juga menyurati Presiden Jokowi untuk mempertanyakan hasil tes yang telah dikeluarkan. Selain mengirim surat kepada Presiden Jokowi, ia juga mengirim surat ke sembilan lembaga negara.
“Selain Presiden saya juga surati Komisi III DPR RI, Ketua DPD RI, Menkopolhukam, serta Kejaksaan Tinggi Jatim. Saya masih menunggu, saya kirim surat tanggal 31 Desember 2021 Sampai detik ini tidak ada respon sama sekali, lantas kemana saya mengadu ?,” ujarnya lirih.
Dari semua usaha yang dilakukan, ia mengaku tidak berharap banyak. Ia hanya ingin transparansi terhadap nilai yang ia peroleh. Ia pun mengaku siap menerima semua hasil jika memang ia tidak lulus.
“Permintaan saya ga aneh – aneh, Saya cuman minta tranparansi. Kalo saya gak lulus ya gapapa. Kalo memang saya misal kesehatan buruk ya ayo kita tes ulang. Tapi kan hasil saya tes mandiri berkata berbeda dengan hasil tes di SKB,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tes-jaksa”]
Menurutnya, selain dirinya ada peserta tes lain yang nilainya diatas Ghufron tetapi juga dinyatakan TMS oleh panitia seleksi. Ia pun berharap peserta lain berani speak up dalam permasalahan ini agar kedepannya ada perbaikan sistem.
“Harapan saya minimal kedepan tidak ada lagi orang seperti saya. Jujur saya tidak mikir saya sendiri. Karena saya juga tau ada teman saya yang dari Jawa Timur pojok itu sampai tidur di masjid selama 4 hari. Ada sekitar 200 orang yang nilainya diatas saya, mereka juga dinyatakan TMS walaupun nilainya tinggi,” tegasnya.
Ia pun meyakini jika penegak hukum di Indonesia layak diberikan kepada putra dan putri terbaik di negeri ini. Ia percaya, jika kebenaran harus ditegakan untuk memperoleh hasil yang maksimal.
“Karena pandangan saya, untuk mencapai suatu kebenaran harus punya keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Bagaimana bisa bermanfaat jika tidak ada keyakinan.bagaimana bisa yakin jika tidak ada keadilan. Maka saya meyakini jika kebenaran lahir dari proses yang benar,” pungkasnya. (ang/ted)






